Wednesday, 5 February 2014

Perumpamaan tentang Seorang Penabur Benih

Matius 13:18-23 (Lihat juga Lukas 8:4-8, 11-15) - Khotbah oleh Pendeta Eric Chang
 
Ini adalah Perumpamaan Dasar
Kita akan lanjutkan pembahasan dari Matius pasal 13, namun pada saat ini, saya tidak membahasnya dari Matius 13, saya mengambil pelajarannya dari Lukas 8:4-8 dan 11-15. Kita akan melihat apa yang ingin disampaikan oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan. Tuhan Yesus mengajar dengan memakai perumpamaan dan ada sekitar 30 perumpamaan yang tertulis di dalam Perjanjian Baru. Dengan bersandar pada kasih karunia Tuhan, saya akan membahas perumpamaan-perumpamaan tersebut secara sistematis setiap minggu sampai ketigapuluh perumpamaan yang berharga dari Tuhan dapat kita pelajari semuanya.
Hari ini kita akan memulai dengan perumpamaan yang disebut Perumpamaan Dasar: yaitu Perumpamaan tentang Penabur. Anda tentu ingat bahwa kita sudah seringkali merujuk kepada perumpamaan ini, akan tetapi kita belum membahasnya secara sistematis. Perumpamaan ini sangatlah kaya makna dan saya akan mencoba untuk mengungkapkan poin pentingnya sebagai dasar untuk memahami perumpamaan ini sejalan dengan pembahasan kita nanti. Di dalam Lukas pasal 8, ayat 4 sampai 8 adalah isi dari perumpamaan tersebut, sedangkan ayat 11-15 adalah bagian penjelasannya. Ini adalah satu-satunya perumpamaan di mana Tuhan Yesus memberi penjelasan langsung. Di dalam memberi penjelasan itu, Ia sedang mengajarkan murid-muridNya cara untuk memahami perumpamaan. Di dalam khotbah mendatang, kita akan melihat mengapa Tuhan Yesus memakai perumpamaan, apakah perumpamaan membantu kita untuk memahami atau justru menghalangi pemahaman kita akan sesuatu ajaran.
Mari kita baca perumpamaan di dalam Lukas 8:4-8:
Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Itulah bagian isi perumpamaan, lalu Tuhan Yesus sendiri memberi penjelasan di ayat 11-15. Dan penjelasannya adalah sebagai berikut:
Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

Dari Markus 4:13, kita melihat bahwa ini adalah perumpamaan foundasi atau yang paling dasar karena Tuhan Yesus berkata, "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?" Itu sebabnya perumpamaan ini menjadi perumpamaan yang muncul pertama kali. Di dalam seluruh Injil [Matius, Lukas, Markus dan Yohanes] anda akan menemukannya sebagai perumpamaan yang muncul paling awal.
Apa yang dibicarakan dalam perumpamaan ini? Tuhan Yesus berbicara tentang seorang penabur yang sedang menaburkan benih. Ini adalah gambaran yang sangat umum di daerah-daerah pertanian. Dengan mudah anda akan dapat menemukan orang yang sedang menabur benih di daerah-daerah tersebut. Lalu Tuhan Yesus berkata, "Pada saat seorang petani menaburkan benih, ia menghamburkannya begitu saja. Ia menebarkan ke depan pada saat menabur. Ia membawa kantong benih, tergantung di dadanya, sebuah kantong yang digantung melingkari bahunya, lalu ia mengambil segenggam benih dan menghamburkannya agak melingkar. Ia berjalan menyusuri ladang sambil menaburkan benih."
Pada saat anda menaburkan benih, beberapa benih akan jatuh ke tanah yang keras, misalnya di pematang yang merupakan tanah yang mengeras, karena merupakan jalur umum yang melintasi ladang, dan sering diinjak-injak oleh orang yang lalu-lalang. Benih yang jatuh di tanah yang keras (seperti pematang itu), jelas tidak akan dapat masuk ke dalam tanah; mereka tetap tinggal di permukaan. Dan anda tentunya sering melihat, di mana ada petani menabur benih, ia diikuti oleh sekawanan burung, yang menunggu kesempatan untuk memakan benih yang tertinggal di permukaan. Jadi, bagi benih-benih yang jatuh di pematang, burung-burung akan datang dan mengambilnya - benih yang bisa dijangkau oleh burung-burung tersebut.
Lalu Tuhan berkata bahwa ada lagi benih yang jatuh ke tanah yang dangkal. Ketika hujan turun dan tanah itu mulai membungkus benih tersebut, benih itu akan bertumbuh dengan sangat cepat. Sepertinya menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik. Pertumbuhan yang luar biasa mungkin. Akan tetapi sesudah beberapa waktu, sejalan dengan pertumbuhan akarnya, akar itu segera tertahan oleh bebatuan di lapisan bawah. Ada batas sejauh mana akar itu bisa menjalar. Ketika ia menyentuh lapisan batu, hanya sampai di situlah batas pertumbuhannya. Karena dibatasi oleh bebatuan, akar itu tidak dapat masuk lebih jauh untuk mendapatkan air dan mulai layu. Tanaman itu mati karena kekurangan air.
Ada lagi yang jatuh di tanah yang memungkinkan pertumbuhan, akan tetapi lahannya tidak murni. Tanah ini berisi berbagai macam benih, beragam akar dan beragam tumbuhan. Berbagai macam benih tumbuhan ini pada awalnya tidak kelihatan, dan sebagaimana yang dijelaskan di dalam Lukas, mereka lalu tumbuh bersama-sama dengan benih gandum itu dan menjepitnya. Pada waktu menabur, anda tidak melihat adanya semak atau tumbuhan yang lain di sana. Akan tetapi sesudah beberapa waktu, sebagaimana yang diceritakan oleh Lukas, mereka mulai tumbuh bersama dengan benih gandum. Kemudian akar semak duri itu membelit akar gandum, akar gandum yang masih muda ini dan menjepitnya sehingga tanaman gandum ini tidak dapat memperoleh bahan makanan yang dibutuhkannya. Akhirnya gandum yang baru tumbuh ini juga mati.
 
Tanah yang Bermacam-macam ini Menggambarkan Berbagai Macam Hati Manusia
Jika kita perhatikan baik-baik (saya akan membahas bagian ini secara ringkas karena saya ingin agar kita segera sampai ke poin yang utama secepatnya), kita dapat membagi benih-benih ini ke dalam dua kelompok, dan masing-masing kelompok terdiri dari tiga kategori atau tiga tipe. Jadi ada dua kelompok dan tiga tipe dalam setiap kelompok. Setiap tipe di dalam masing-masing kelompok memiliki perbedaan yang cukup nyata dan ini perlu anda perhatikan. Tidak semua orang yang tidak percaya dapat dianggap sama rata, dan tidak semua orang percaya dapat disama ratakan pula. Kita tidak boleh membayangkan bahwa semua orang non-Kristen memiliki kondisi hati yang sama, memiliki kerohanian yang sama rata. Mereka masing-masing memiliki perbedaan dalam menanggapi berita Injil.
Seperti apa ketiga tipe di dalam kelompok yang pertama? Kelompok yang pertama adalah mereka yang tidak diselamatkan. Mereka sering disebut sebagai orang yang tidak percaya. Akan tetapi pernyataan seperti ini kurang tepat, karena dalam kenyataannya, hanya satu kategori dari kelompok yang 'tidak diselamatkan' ini yang benar-benar tidak percaya, sedangkan dua kategori atau tipe yang lain adalah orang-orang percaya, sebagaimana yang akan anda lihat nanti di dalam penjelasan Tuhan sendiri. Tentu saja ada banyak pengajaran di berbagai gereja yang bertolak belakang dengan ini, akan tetapi doktrin-doktrin tersebut tidak perlu kita risaukan. Tugas saya adalah untuk menjabarkan Firman Allah. Dan saya harap, sebagaimana yang sudah kita nyatakan bersama sebelumnya, bahwa hati kita benar-benar dibuka untuk menerima Firman Allah dan membiarkan Firman Allah membimbing kita kemana pun arah dituju oleh kebenaran itu nantinya.
 
Kunci untuk Memahami Perumpamaan
Mereka yang tergolong tipe yang pertama dari kelompok yang tidak diselamatkan adalah orang-orang yang hatinya dikeraskan. Kunci pemahaman perumpamaan ini, satu hal yang harus saya uraikan sebelum memasuki pemahaman yang menyeluruh, sebenarnya sangat sederhana. Pertama, benih itu adalah Firman Allah. Ini dijelaskan dengan tegas oleh Tuhan Yesus. Jika Firman Allah adalah benih, maka orang yang mengabarkan Firman Allah adalah penaburnya. Setiap kali anda memberi kesaksian demi Kristus atau mengabarkan Firman Allah, maka anda sedang menabur benih. Dan di dalam hal ini, penabur yang pertama adalah Tuhan Yesus sendiri, namun sesudah itu, kita semua yang mengabarkan Injil adalah penabur. Itu sebabnya para murid juga disebut sebagai penabur benih, sebagaimana yang kita lihat di dalam Matius 10. Tugas mereka adalah menabur benih.
Benihnya adalah Firman Allah, atau disebut juga sebagai Firman Kerajaan Allah, Firman tentang Kerajaan Sorga (dalam Matius 13:19). Penyebutan itu menggambarkan pengaturan oleh Allah, pemerintahan Allah. Pada kesempatan yang lalu, kita sudah melihat bahwa kehendak Allah adalah hal yang utama dalam hubungan kita dengan Allah. Tidak ada yang lebih penting daripada kehendak Allah. Kehendak Allah adalah satu-satunya hal yang kita perhatikan di dalam hidup kita. Di sini, kehendak Allah dinyatakan dengan kata 'kerajaan'. Kata 'kerajaan' berarti pemerintahan, pengaturan atau kehendak Allah. Kerajaan Allah terletak di setiap tempat di mana kehendak Allah dijalankan. "Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu." Itu sebabnya mengapa kata 'kerajaan' dan 'kehendak' memiliki makna yang sama karena kerajaan Allah berada di setiap tempat di mana kehendakNya dijalankan. Firman tentang Kerajaan Sorga adalah pesan yang berisi panggilan kepada setiap orang untuk menyerahkan hidupnya kepada Allah.
Setiap pengajar yang tidak menjadikan hal ini sebagai pokok utamanya, yang tidak mengajarkan bahwa setiap orang Kristen sejati adalah orang yang hidup di bawah kehendak Allah, berarti tidak mengajarkan Firman Allah dengan sejujurnya. Jika kita mengabarkan keselamatan hanya dengan mengatakan, "Datanglah kepada Yesus untuk menerima damai sejahtera dan sukacita", maka tindakan itu bukanlah mengabarkan Firman Allah. Pertama-tama kita harus mengatakan, "Datanglah dan hiduplah di bawah pemerintahan Allah, di bawah kehendak Allah. Biarkan Allah yang menjadi Raja dalam kehidupan anda! Biarlah Yesus menjadi Tuhan dalam hidup anda!" Itulah yang disebut mengabarkan Injil. Jika anda hidup seperti itu, maka akan ada damai sejahtera dan sukacita di dalam hati. Selain itu, akan ada juga penindasan, penganiayaan dan penderitaan, sebagaimana yang akan kita lihat nanti. Setiap pengkhotbah yang tidak menyebutkan hal ini sangat tidak layak untuk mengabarkan Injil karena ia tidak mengabarkan Injil sebagaimana yang dimaksudkan oleh Tuhan. Kita dipanggil bukan untuk menjual permen. Kita dipanggil bukan untuk menjual manisan. Kita dipanggil untuk mengabarkan kebenaran, bukan untuk mengatakan hal-hal yang ingin didengarkan oleh orang-orang, melainkan untuk mengatakan kebenaran kepada mereka. Seorang dokter seringkali harus menyampaikan kebenaran kepada pasiennya. Anda mungkin tidak suka mendengarkannya, akan tetapi itulah kebenaran. Tidak ada orang yang senang diberitahu bahwa ia berada dalam keadaan sakit yang parah. Jadi kita dapat melihat di sini bahwa mengabarkan Firman Allah berarti mengabarkan kerajaan Allah, kehidupan di bawah kedaulatanNya, di bawah pemerintahanNya. Tidak ada orang yang layak menjadi Kristen yang tidak belum menyerahkan kehidupannya kepada Yesus sang Raja.
Itulah yang disebut sebagai Firman Allah, dan si penabur adalah orang yang mengabarkan hal itu. Sebagai pendahulu, Tuhan Yesus menjadi penabur yang pertama, dan selanjutnya kitalah yang melakukannya. Ini bukan melulu urusan pengkhotbah, akan tetapi anda juga, setiap kali anda bersaksi kepada teman, setiap kali anda berbicara tentang Firman Allah kepada orang lain, itu berarti anda sedang menabur benih.
Jika benih adalah Firman Allah, dan penabur adalah orang yang mengabarkannya, lalu apa arti tanah? Tanah, yang menerima benih, sebagaimana yang dijelaskan oleh Tuhan Yesus, adalah hati. Hati seseorang digambarkan seperti tanah, tempat benih ditabur. Anda dapat melihat hal itu di dalam Matius 13:19. Benih ditaburkan ke dalam hati seseorang. Ini berarti bahwa berbagai macam tanah yang digambarkan di dalam perumpamaan ini merupakan gambaran dari berbagai macam sikap hati.
 
Kelompok yang 'Tidak diselamatkan' - Tipe pertama: Orang yang Menolak Injil
Jadi, dengan berbekal latar belakang ini, kita sekarang dapat mulai membahas 3 kategori orang yang tidak percaya (di dalam kelompok ini), atau lebih tepatnya, 2 kategori orang percaya dan 1 kategori yang tidak percaya, namun semuanya sama-sama tidak diselamatkan - dan kita akan membahas fakta-fakta yang membedakan ketiganya. Kategori pertama adalah mereka yang digambarkan seperti pematang di mana benih itu jatuh tetapi tidak dapat memasukinya, karena tanah pematang itu keras. Dengan kata lain, ini menggambarkan jenis orang yang hatinya sudah dikeraskan sepenuhnya terhadap Allah. Anda sampaikan Injil kepada orang ini dan pesan itu akan berlalu seperti air yang menggelincir di punggung bebek. Anda seperti menabur di atas batu karang. Tidak ada hasilnya. Benih itu tidak dapat masuk ke dalam tanah. Orang seperti ini, yang tergolong kategori pertama, sudah keras sepenuhnya; mereka sama sekali tidak ingin berurusan dengan Injil. Hati mereka mengeras terhadap Injil. Mereka tidak ingin mendengarkan Firman Allah. Atau jika mendengar sekalipun, hanya untuk mencemoohkannya, untuk kemudian menolaknya. Mereka menginjak-injak Injil di bawah kaki mereka. Dalam hal ini, Injil benar-benar tidak dapat masuk ke dalam hati mereka. Mereka tidak percaya sama sekali.
 
Tanah yang Berbatu-batu - 'Orang Percaya' yang Kepercayaannya Dangkal
Kategori kedua di dalam kelompok yang tidak diselamatkan ini sangatlah berbeda. Hati mereka, di permukaannya, sangat tanggap terhadap Injil, sehingga Tuhan Yesus menggambarkan keadaan hatinya seperti tanah subur yang dangkal dengan lapisan batu di bawahnya. Ini adalah jenis orang yang dapat anda katakan memiliki keyakinan yang dangkal. Dan orang-orang semacam ini selalu menjadi masalah besar bagi gereja, akan tetapi mereka juga menjadi kesukaan para penginjil tertentu, karena mereka adalah orang-orang yang cepat tanggap. Mereka adalah orang-orang yang cepat mengangkat tangannya dalam setiap KKR. Mereka seperti tidak mengalami pergumulan yang berarti. Seperti yang disampaikan dalam Alkitab, mereka menerima Firman Allah "dengan gembira". Mereka dengan senang hati menerima Firman. Anda dapat melihatnya di dalam ayat 13: "Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu," - demikianlah Firman Allah - "menerimanya dengan gembira," akan tetapi mereka tidak berakar. Mereka tidak memiliki kedalaman. Penjelasan ini dapat kita lihat dengan sangat jelas, terutama di dalam Matius 13:5, dalam ungkapan "tanahnya tipis".
Orang semacam ini menjadi masalah bagi setiap pengkhotbah karena ketika anda mengkhotbahkan tentang Injil kepada mereka, mereka menerima hal itu dengan senang hati, dan barkata, "Haleluyah! Ini luar biasa. Oh, sangat luar biasa." Dan anda akan berkata, "Wah, orang Kristen yang ini sangat luar biasa! Pandanglah dia! Dia menerima dengan sukacita!" Jika anda berkata, "Setiap orang yang sudah memutuskan untuk menerima Yesus, angkatlah tangan anda", maka tangan mereka akan melesat seperti roket. Mereka adalah orang-orang yang segera meluncur ke depan, waktu anda berkata, "Marilah ke depan!" No problem! Mereka adalah orang-orang yang selalu hadir dalam KKR. Tentu saja, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap orang yang mengacungkan tangannya dalam sebuah KKR termasuk ke dalam kategori ini. Ada juga orang yang mengacungkan tangannya dan memang benar-benar mengasihi Tuhan, dan yang benar-benar memiliki kedalaman. Jadi jangan keburu mencurigai pernyataan saya. Saya tidak bermaksud mengatakan seperti itu. Namun, yang menjadi masalah ialah bahwa orang-orang dalam kategori ini cenderung menjadi bagian terbesar atau mayoritas. Ada banyak juga orang yang mengacungkan tangannya di dalam sebuah KKR dan maju dengan takut dan gemetar, dan tetap setia di dalam Tuhan sampai pada akhirnya. Kita tidak boleh mengabaikan keberadaan mereka.
Saya sering melihat orang yang datang kepada Tuhan dengan air mata, dengan ketakutan dan gemetar. Orang-orang seperti ini seringkali lebih mantap dan kokoh. Akan tetapi ada jenis orang yang sekadar meluncur ke depan, dan saya menguatirkan mereka yang masuk ke dalam kategori ini. Mereka yang masuk ke dalam kategori kedua tidak memiliki kedalaman. Jadi, mereka menerima Firman Allah dengan segera dan langsung menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan. Mereka bertumbuh jauh lebih cepat dibandingkan dengan yang lainnya! Para pakar menjelaskan bahwa pertumbuhan yang cepat ini diakibatkan oleh kehangatan tambahan yang diberikan oleh bebatuan di lapisan bawah. Demikianlah, benih itu bertumbuh lebih cepat; mendapat tanggapan yang sangat cepat. Anda akan melihat orang ini melesat dalam pertumbuhan, sementara yang lainnya bertumbuh lebih lambat. Manusia jenis ini bertumbuh secepat kilat sehingga anda mungkin berkata, "Benar-benar orang Kristen yang luar biasa!" Jangan terburu nafsu! Jika anda berpengalaman dalam Firman Allah, jangan cepat menyimpulkan. Jangan langsung senang dulu. Waktu akan membuktikan apakah ada akar di bawah sana atau tidak.
Apa yang kita lihat di dalam kategori ini adalah mereka yang kepercayaannya dangkal. Memang ada tanggapan rohani, namun tanggapan itu kurang mendalam. Mengapa? Karena di bawahnya ada penolakan yang mendasar, penolakan terhadap Firman Allah. Mereka hanya mau maju sampai batas tertentu saja. Mereka tidak berserah sepenuhnya. Mereka menyerahkan diri, namun hanya sampai pada titik tertentu. Itu sebabnya saya selalu mengingatkan anda bahwa iman yang menyelamatkan yang sesuai dengan Alkitab adalah komitmen yang total dan tanpa syarat karena jika tidak total, maka itu berarti bahwa anda sudah menarik suatu garis batas di dalam hati anda. Anda sendiri yang tahu di mana itu. Atau mungkin anda sendiri tidak tahu di mana garis batas itu, akan tetapi pada suatu hari, akar tanaman akan menyentuh batu tersebut. Akar itu tidak akan bertumbuh lagi, dan apa yang akan terjadi ialah bahwa tanaman itu layu dan mati.
Mereka yang sudah lama melayani Tuhan tentunya telah melihat betapa banyak kerohanian yang mati dan ambruk, terlalu banyak kejadian seperti itu. Seringkali, yang mati ini merupakan mayoritas. Saya ingin agar anda menguji hati anda. Apakah anda sudah memberi tanggapan kepada Allah? Ya. Namun apakah tanggapan itu tanpa syarat? Apakah anda memiliki suatu garis batas di suatu tempat di dalam hati anda dan berkata, "Saya akan menjadi orang Kristen yang baik sampai di batas ini saja. Saya tidak mengijinkan Firman Allah untuk mendorong saya melewatinya; harus berhenti di titik ini. selama tidak melanggar batas ini, saya akan melayani dengan penuh semangat. Saya akan melayani kaum muda. Saya akan melakukan ini dan itu di dalam gereja, saya akan menjadi aktif." Mereka memang sangat aktif, selama batas itu tidak dilampaui. Secara mental, atau jauh di dalam hati mereka, sudah ditetapkan satu garis batas yang tidak ingin mereka lewati. Jika anda menekan lebih dalam lagi, jika anda membuat ujian, anda akan mendapati bahwa batang yang anda tancapkan akan segera menyentuh batu dan tidak dapat masuk lebih jauh lagi. Tidak perlu harus sampai dalam. Akar tanaman gandum tidak merambat jauh ke dalam, pada keadaan yang sangat subur sekalipun. Jadi anda dapat melihat bahwa lapisan tanahnya sangatlah dangkal. Pada bagian ini, kita perlu mencermati masalah ini dengan lebih baik dan membuat pengamatan yang lebih teliti.
Hal yang saya ingin agar anda perhatikan adalah bahwa mereka yang masuk kategori kedua ini merupakan orang-orang yang percaya. Mereka termasuk sebagai orang "Kristen". Mereka adalah orang yang, sesudah menerima Firman Allah, akan segera minta dibaptis, mulai menjalankan banyak hal. Jadi kita dapat segera melihat bahwa mereka memang percaya, namun sayangnya, seperti yang dijelaskan di dalam ayat 13, "mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad". Mereka orang percaya! Sesuai dengan terang ayat-ayat Alkitab, bagaimana mungkin dinyatakan, bahwa sekali anda percaya, maka anda akan selamanya selamat? Bahwa adalah tidak mungkin untuk kehilangan keselamatan setelah anda percaya. Benar-benar membuat saya terkejut sewaktu saya mempelajari isi Alkitab. Kita diberitahu berdasarkan perkataan Tuhan sendiri bahwa "mereka percaya sebentar saja dan ... mereka murtad". Riwayat mereka tamat!
Saya kuatir dan memeriksa sekali lagi, saya tidak mau membuang banyak waktu dengan orang-orang yang tidak benar-benar ingin mendengar Firman Allah, yang mengembangkan doktrin serta teori-teorinya sendiri, dengan landasan yang menentang Firman Allah. Jangan biarkan seorang pun mengajari anda hal yang berbeda dari Firman Allah. Jangan tenggelam dalam keyakinan yang berbahaya, sambil berkata kepada diri sendiri, "Saya baik-baik saja, saya sudah percaya. Saya sudah dibaptis." Mungkin anda justru masuk ke dalam kategori ini, saya harap tidak! Tapi mungkin, bagaimana jika anda memang masuk ke dalam kategori ini? Anda sudah dibaptis, anda sudah percaya, lalu mendapatkan kehangatan yang cukup, anda menjadi sangat bersemangat untuk sementara, namun ketika penindasan datang, anda berpaling dan murtad. Saya berdoa kepada Allah supaya tak seorang pun dari anda yang masuk kategori ini. Jadi demikianlah mereka yang masuk kategori kedua, orang yang percaya, tetapi yang percaya hanya untuk sementara.
 
Tanah dengan "Beragam Jenis Benih" di dalamnya - "Orang Kristen" yang Mendua Hati
Kategori yang ketiga ini pun termasuk yang tidak selamat. Akan tetapi mereka yang masuk ke dalam kategori ini berbeda dari kedua tipe orang sebelumnya. Kategori yang ini tidak memiliki masalah sama sekali dengan bebatuan. Hati mereka terbuka sepenuhnya terhadap Firman Allah. Tidak ada lapisan batu sama sekali di dalam tanahnya. Tanah itu subur. Memiliki kedalaman. Tampaknya baik. Lalu apa masalahnya? Ketika Firman Allah ditaburkan, mereka menerima Firman Allah itu sepenuh hati, seperti mereka yang masuk kategori kedua, namun kali ini tidak disebutkan "dengan gembira". Penerimaan mereka lebih mendalam. Orang dengan penerimaan yang mendalam tidak akan memberikan tanggapan yang dangkal. Di dalam ketiga injil tidak disebutkan bahwa mereka yang di dalam kategori ini menerima Firman dengan gembira. Tentunya mereka menerima Firman itu dengan penuh keraguan, mungkin dengan gemetar, dengan pergumulan keras. Mereka tidak memberi tanggapan yang berisi sukacita. Sangat mengagumkan jika kita perhatikan ketepatan dari pengajaran Tuhan. Ia menambahkan keterangan 'dengan gembira' hanya kepada mereka yang di dalam kategori kedua. Sedangkan yang di dalam kategori ketiga tidak menerima Firman dengan cara ini.
Mungkin mereka maju ke depan dengan air mata; mereka meratap; gemetar. Hati mereka terbuka kepada Allah. Tidak ada garis batas di hati mereka, namun - apa? Tetapi ada perkara lain di dalam hati. Hati mereka tidak murni di dalam pengabdian dan komitmen kepada Tuhan. Mereka tidak membuang benih-benih lain dari dalam hati mereka. Kemudian terjadilah, Firman Allah itu bertumbuh di dalam hati mereka, artinya mereka membuat tanggapan yang nyata, namun segera juga "hal-hal lainnya" - kata yang digunakan di sini adalah "hal-hal lainnya" - ikut bertumbuh dan menjepitnya, dan tanaman itu gagal bertumbuh. Inilah tragedi besar yang dialami oleh kategori ini. Mereka gagal untuk menjalankan firman Tuhan Yesus, "Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon". (Mat.6:24, Luk.16:13). Anda tidak dapat mencampur-adukkan keduanya! Anda tidak boleh mengabdi kepada Allah dan kepada Belial. Anda tidak boleh mengabdi kepada Allah sekaligus kepada berhala-berhala lainnya. Anda tidak boleh mengabdi kepada Allah sekaligus kepada dunia. Sudahkah anda menetapkan pilihan? Tahukah anda di mana posisi anda sekarang? Adakah hati anda murni di hadapan Allah?
Itu sebabnya mengapa Tuhan Yesus menyatakan di dalam Khotbah di Bukit, seperti yang anda ingat ketika kita membahasnya, "Jika matamu baik" (Mat.6:22). Karena jika mata anda tidak baik atau tidak terpusat, maka anda akan mengalami masalah pandangan yang mendua, dan terang di dalam diri anda akan menjadi gelap. Lalu Tuhan Yesus berkata bahwa jika terang yang ada di dalam diri anda itu gelap, "betapa gelapnya kegelapan itu" (ay.23), semuanya terjadi jika mata anda tidak baik/tidak terpusat. Mata anda tidak berfungsi. Anda tidak memusatkan pandangan kepada Allah; anda mencoba untuk melirik dunia; anda mencoba untuk melirik berhala; melihat-lihat kesenangan dunia. Anda tidak akan dapat bertahan dengan keadaan seperti ini! Anda harus sepenuhnya dan tanpa syarat berkomitmen kepada Allah untuk dapat bertahan. Tidak ada jalan lain.
Ujilah hati anda di hadapan Allah. Perhatikanlah! Perhatikan: tidak disebutkan tentang dosa di sini. Perhatikan baik-baik. Tidak disebutkan bahwa hati mereka penuh dosa. Tidak! Mereka menerima Injil dengan sukacita. Mereka mengasihi hal-hal yang baik. Mereka mengasihi jemaat. Mereka juga mengasihi Firman Allah. Akan tetapi Firman Allah plus ini dan itu. Kristus plus ini dan itu. Dan sekali anda melakukan hal seperti itu, jika Kristus tidak menjadi segala-galanya, anda tidak akan dapat bertahan.
Jadi kita diberitahu apa yang akan terjadi di dalam kategori ketiga ini. Khususnya jika anda melihatnya di dalam Injil Markus, tepatnya Mar.4:19, kita akan melihat persoalan yang terjadi. Tanaman itu terjepit. Firman Allah terhimpit oleh hal-hal yang lain itu. Kategori ini juga sangat menguatirkan, karena seringkali saya melihat orang Kristen yang memulai dengan sangat baik. Mereka tampaknya memiliki kedalaman yang bagus. Tanggapan mereka tidaklah dangkal, akan tetapi mereka tidak dapat memusatkan perhatiannya, tidak ada ketetapan hati. Hati mereka terpencar-pencar, tidak terfokus. Anda tidak akan dapat bertahan tanpa itu.
 
Tipe yang Pertama Tidak Pernah Percaya, Dua yang lainnya Murtad
Sekarang kita dapat melihat bahwa di dalam ketiga kasus ini, semuanya sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Kita sudah mengamati dari ketiga macam orang yang tidak diselamatkan ini hanya satu yang tidak percaya, yang tidak pernah mau menerima Firman Allah; dua yang lainnya menerima Firman Allah namun kemudian murtad. Jadi apa yang berlangsung selanjutnya, sebagaimana yang kita lihat di dalam ayat-ayat Lukas, adalah bahwa "mereka percaya sebentar saja" dan kemudian mereka "murtad". Dan kata "murtad" ini di dalam Alkitab sangat mutlak sifatnya. Kata Yunani yang sama digunakan di dalam 1 Tim.4:1 "sebagian orang akan murtad". Roh Kudus menyebutkan dengan tegas bahwa di hari-hari akhir, di akhir jaman, "sebagian orang akan murtad". Kata yang sama seperti yang tercatat di dalam Lukas 8:13. Di dalam Ibr.3:12, kita dapati lagi kata Yunani yang sama dengan maksud yang sama.
Saya akan bacakan Ibr.3:12 bagi anda, sebab ini adalah ayat yang sangat penting karena kata-kata yang tertulis di situ ditujukan kepada orang-orang Kristen: "Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup." Bagaimana mungkin anda akan berbicara kepada orang-orang Kristen tentang, "hatinya yang jahat dan yang tidak percaya"? Apa yang ia maksudkan dengan "hati yang jahat"? Di sini, kata 'jahat' tidak dimaksudkan untuk menggambarkan tindakan pembunuhan atau perampokan; tidak satupun orang Kristen yang mau melakukan hal itu. Namun yang dimaksud adalah hati yang 'tidak percaya', yaitu hati yang tidak mengijinkan Allah untuk memerintah atasnya. Tidak mengijinkan Allah untuk menjadi Raja di dalam kehidupan anda. Dinyatakan jahat karena tidak mengijinkan Allah untuk menjadi Raja dalam kehidupan anda merupakan suatu tindakan pemberontakan terhadap kedaulatan Allah. Akibatnya adalah kemurtadan dari Allah yang hidup.
Di dalam Lukas 13:27, kata Yunani yang sama digunakan lagi, kali ini oleh Tuhan Yesus, sebagai ungkapan penolakan yang sangat keras: "Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!" Kata ini diterjemahkan dengan ungkapan 'enyah'. "Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!". "Aku tidak tahu dari mana kamu datang". Di sana Ia berbicara kepada mereka, ingatlah, yang mengaku dirinya sebagai orang Kristen. Mereka sudah menolak Kristus di dalam hati mereka dengan cara hidup mereka, tidak harus lewat mulut mereka.
Ini membawa kita kepada satu poin. Sehubungan dengan kedua macam kategori itu, ketika dikatakan bahwa mereka "murtad", ini tidak harus berarti bahwa mereka tidak datang lagi ke gereja. Beberapa dari antara mereka memang tidak datang lagi ke gereja. Akan tetapi yang menjadi makna utamanya adalah bahwa di dalam hati mereka, sudah timbul penolakan terhadap kerajaan Allah. Kehendak Allah sudah tidak lagi menjadi hal yang utama buat mereka. Mereka adalah orang-orang yang masih datang ke gereja, dan sesudah ibadah mereka bergegas pulang untuk bermain judi. Mereka bergegas pulang untuk memasang taruhan di pacuan kuda. Mereka bergegas pulang untuk segera melakukan berbagai kegiatan terlarang lainnya. Mereka orang Kristen, tetapi mereka melakukan hal-hal itu. Termasuk orang Kristen yang macam apakah anda? Pada masa yang lalu, mungkin mereka pernah menjadi 'semacam' orang Kristen. Sekarang mereka masih hadir di gereja. Ibadah di gereja dapat saja menjadi semacam kebiasaan. Anda merasa ada yang kurang jika tidak ke gereja pada hari Minggu. Jika anda sudah secara rutin mengunjungi gereja selama bertahun-tahun, hal itu dapat menjadi kebiasaan bagi anda. Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan di hari Minggu pagi atau sore, jika saat-saat itu tidak dihabiskan di gereja. Akan tetapi hal itu tidak lagi mencerminkan kualitas hidup anda. Jadi makna 'kemurtadan', berdasarkan Alkitab, tidak harus dinyatakan melalui tindakan meninggalkan gereja, walaupun memang ada yang seperti itu. Hati mereka - harap diingat, pokok utama yang kita bahas adalah keadaan hati seseorang - telah meninggalkan Allah.
Itulah kelompok yang pertama. Kita sekarang memahami keadaan dari ketiga kategori di dalam kelompok pertama yang tidak diselamatkan ini di mana semuanya "telah murtad" dan tidak diselamatkan.
 
Kelompok yang Diselamatkan dan Jumlah Hasil Buah yang Berbeda-beda
Kelompok yang kedua juga memiliki tiga kategori. Kelompok ini digambarkan menghasilkan buah: ada yang tigapuluh kali, enampuluh dan seratus kali lipat dari jumlah yang ditabur. Di sini kita melihat adanya suatu keseimbangan yang sempurna di dalam perumpamaan ini, antara mereka yang tidak diselamatkan dengan yang diselamatkan. Saya rasa, sangat perlu untuk mengingatkan anda sekali lagi bahwa dari antara mereka yang tidak diselamatkan, hanya kategori yang pertama saja yang benar-benar tidak percaya, sedangkan dua kategori lainnya merupakan orang-orang yang pada awalnya percaya. Mereka percaya, seperti kata Tuhan Yesus, "sebentar saja".
Dan di dalam kelompok yang kedua ini, yaitu mereka yang menghasilkan buah, juga terdapat perbedaan. Perbedaan itu terletak dalam hal kualitas. Benih yang ditabur sama, akan tetapi benih yang sama ini memberi hasil yang berbeda sesuai dengan kesuburan tanahnya. Firman Allah yang anda dengarkan sama dengan yang didengar oleh John Wesley (pendiri gerakan Metodis di Inggris, pent.). Namun, mengapa anda tidak menjadi seperti John Wesley? Firman Allah yang anda dengarkan sama dengan yang pernah didengar oleh John Sung (penginjil di kawasan Asia pada masa antara PD I & II, pent.). Akan tetapi mengapa anda tidak menjadi seperti John Sung? Ia membaca Alkitab yang sama dengan yang anda baca; ia menerima Roh Kudus yang sama dengan yang anda terima, tapi mengapa anda memberi hasil yang berbeda dengan dia? Apa yang menimbulkan perbedaan ini?
Di sini kita melihat ada yang menghasilkan seratus kali lipat, sementara yang lain hanya tigapuluh kali lipat. Jumlah yang dihasilkan masih kurang dari sepertiga orang yang memberi seratus kali lipat. Di mana perbedaannya? Perbedaannya terletak pada kualitas tanahnya - kualitas tanggapan anda terhadap Allah. Anda cukup membaca tulisan orang-orang seperti John Sung dan Wesley untuk memahami kualitas tanggapan mereka. Kualitas yang berbedalah yang menjadi penyebabnya. Dengan demikian kita dapat memahami mengapa mereka mengalami kuasa Allah yang bekerja melalui mereka dengan kekuatan yang sebesar itu. Semestinya hal ini menjadi tantangan bagi kita. Ingatlah terus akan hal ini: Firman Allah yang anda dengar sama dengan Firman Allah yang membentuk Paulus, membentuk Augustine, John Wesley, John Whitfield dan sebagainya. Firman Allah yang sama! Di mata kita, orang-orang itu seperti raksasa; sementara sebagian besar yang lain seperti orang cebol. Yang satu menghasilkan seratus kali lipat, dan yang lain hanya tigapuluh kali. Tentunya ini bukan salah Firman Allah; bukan pula kesalahan Roh Allah sehingga anda tidak dapat menjadi seperti John Wesley. Kualitas tanggapan yang berbeda, perbedaan kesuburan tanah, kualitas hati, itulah persoalannya.
Orang Kristen macam apakah anda? Apakah anda ingin menjalani hidup bersama Allah tanpa hasil apa-apa? Pikirkanlah, pada Hari itu ketika anda berdiri di hadapan Tuhan, apakah ada bedanya? Seperti langit dan bumi. Kita sudah membahas hal itu ketika berbicara tentang 'keselamatan' yaitu bahwa jika kita tidak menghasilkan buah, maka tidak akan ada keselamatan. Kita sudah melihat di dalam Yohanes pasal 15 bahwa setiap cabang yang tidak menghasilkan buah akan dipotong dan dibuang ke dalam api. Tuhan sendiri sudah menyatakan sejelas itu. Walaupun anda sudah menjadi cabang, anda tetap dipotong. Pernyataan tersebut sudah sangat jelas, dan tidak perlu diperjelas lagi. Lalu "dicampakkan ke dalam api" (ay.6) juga merupakan pernyataan yang sangat jelas. Tidak perlu diperjelas lagi.
Sekarang pertimbangkanlah hal ini. Tanyakanlah di hadapan Allah: "Jenis tanah yang seperti apakah hati saya ini bagi Firman Allah? Seberapa jauh tanggapan saya?" Dan jangan mengira bahwa dengan berkata, "Baiklah saya akan mengejar yang tigapuluh kali lipat saja", maka berarti anda tidak meninggikan diri. Itu sama sekali bukan sikap merendah! Anda justru sedang menghambat kuasa Firman Allah yang bekerja melalui anda. Benih yang seharusnya dapat menghasilkan seratus kali lipat anda hambat sehingga tinggal tigapuluh kali lipat saja hasilnya. Alasan apa yang akan anda berikan nanti? Jadi baiklah kita berdoa supaya Allah dapat memakai kita sepenuhnya, supaya kehendak Allah dapat dilakukan sepenuhnya di dalam hidup kita. Tanpa hambatan sama sekali! Katakan, "Tuhan, inilah saya dengan segala kelemahan saya, dengan segala kegagalan saya, biarlah kuasa yang daripadaMu saja, dan bukan kekuatan saya, yang bekerja selanjutnya. Pakailah hidup saya sepenuhnya! Genapilah kehendakMu! Hindarkanlah saya dari kecenderungan untuk menghalangi kuasa FirmanMu."
 
Kunci untuk Dapat Berbuah - Ketahanan Menghadapi Penderitaan
Mari kita melihat lebih dalam lagi pada persoalan ini. Apa yang menjadi perbedaan utama dari kedua kelompok ini? Ini adalah hal yang ingin saya ulas sampai ke dasarnya. (Bagi beberapa di antara anda, mungkin ini merupakan khotbah yang terakhir, karena ada beberapa di antara anda yang akan segera berangkat). Ini adalah khotbah yang saya harapkan agar selalu anda ingat karena membicarakan tentang hal-hal yang akan membedakan mereka yang selamat dan yang tidak dapat bertahan. Akan membedakan antara yang akan bertumbuh semakin kuat secara rohani dan yang tidak akan menghasilkan apa-apa, sampai kepada mereka yang akhirnya murtad.
Apa kunci pemahamannya? Inilah poin yang ingin saya tanamkan di dalam hati anda. Semua pembahasan ini sebenarnya berkisar pada satu hal: apakah anda memahami arti penderitaan dan apakah anda bersedia menanggungnya. Itulah hal yang akan memberi perbedaan. Saat ini anda mungkin masih belum memahaminya, akan tetapi saya ingin agar anda merenungkannya sejenak.
Kata terakhir di dalam bagian perumpamaan tentang penabur di Lukas ini adalah "ketekunan". Kata ini mengandung makna 'ketahanan atau daya tahan'. Kata terakhir inilah yang menjadi kuncinya. Kata terakhir di dalam perumpamaan ini haruslah anda ingat baik-baik. Jika anda tidak ingat keseluruhan isi perumpamaannya, maka paling tidak anda ingat pada kata 'ketekunan' ini. Kata ini menunjukkan bahwa anda tidak duduk diam sambil menunggu sesuatu terjadi. Kata ini menunjukkan suatu daya tahan di dalam menjalani penderitaan.
Kita tidak perlu membuang waktu memikirkan mereka yang masuk ke dalam kategori pertama dari kelompok yang tidak diselamatkan karena mereka memang tidak akan mau menerima Firman Allah. Akan tetapi kita perlu memperhatikan mereka yang masuk kategori kedua dan ketiga yang menerima Firman Allah itu, yang menjadi orang Kristen - sesuai dengan definisi gereja - yang menjadi orang percaya, namun hanya sebentar saja dan kemudian murtad. Mengapa mereka ambruk? Karena tidak tahan menghadapi tekanan. Mereka menjadi orang Kristen mungkin karena beberapa pengajar yang berkhotbah seperti ini: "Jika anda datang kepada Yesus maka anda akan memperoleh damai sejahtera dan sukacita". Mereka menawarkan manisan. Siapa yang tidak suka manisan? Dan memang demikian, seringkali pekabaran Injil berlangsung seperti obralan permen.
 
Kesukaran Pasti Menimpa orang Kristen
Cara Tuhan Yesus mengabarkan Injil sangat jauh berbeda. Ia menyatakan bahwa menjadi orang Kristen bukanlah perkara gampang. Anda harus bertahan menghadapi tekanan. Anda harus menahan banyak tekanan. Injil secara terang-terangan menyebutkan hal ini. Rasul Paulus, ketika mengabarkan Injil, tidak pernah mengobralnya seperti permen. Lihat saja di dalam Kisah 14:22. Apa yang terbaca di sana? "Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara". Itulah pernyataan dari Injil. Anda akan memasuki kerajaan Allah, benar, tapi harus melalui banyak sengsara. Saya berterima kasih kepada Allah yang membawa saya kepada para pengajar yang jujur akan hal ini. Saya muak melihat orang yang mengobral kerajaan Allah seperti barang murahan. Kemudian, ketika segala sesuatu mulai bermasalah, anda bertanya-tanya, "Hei, apa yang terjadi dengan saya? Mengapa muncul banyak masalah justru sesudah saya menjadi Kristen?" Tepat sekali! Ketika anda menjadi Kristen, anda akan mendapati bahwa segala sesuatu di dunia ini mulai menjauhi anda. Segala sesuatu mulai menjadi masalah. Dengan begitu anda akan tahu bahwa anda sudah menjadi Kristen. Begitulah cara untuk mengetahui apakah anda Kristen atau bukan. Jika anda menyangka bahwa segala sesuatunya akan menjadi indah buat anda, maka anda masih belum memahami persoalannya. "Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah," kata Paulus, "Kita harus mengalami banyak sengsara".
Di sini Tuhan Yesus mengatakan hal yang persis sama. Ia berkata bahwa ketika benih mulai tumbuh, maka akan terjadi tiga hal. Yang pertama tercatat dalam Mat.13:21, yaitu 'penindasan'. Yang kedua adalah 'penganiayaan'. Dan yang ketiga terlihat di dalam Lukas 8:13, yaitu 'pencobaan'. Kita perlu mempelajari ketiga hal ini: (1) penindasan, (2) penganiayaan, dan (3) pencobaan.
 
1. Penindasan (Tekanan)
Ketiga hal ini akan menimbulkan tekanan yang luar biasa atas diri anda. Suatu tekanan yang sangat berat. Kenyataannya, memang demikianlah arti dari penindasan di dalam bahasa sumbernya. Kata Yunani untuk 'penindasan' pada dasarnya berarti 'tekanan'. Berada di bawah penindasan berarti berada di bawah tekanan. Begitulah maknanya sehubungan dengan pengertian dasarnya, namun kata ini menjadi luas jangkauannya jika dikaitkan dengan tekanan bagi kehidupan Kristen seseorang. Dan kata yang sama digunakan pula di dalam Kisah 14:22: "Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara". Artinya anda akan masuk dalam banyak rupa tekanan sepanjang waktu. Saya yakin bahwa mereka yang baru dibaptis pasti mulai mengalami tekanan, bukankah demikian? Jika anda belum mendapatkannya, maka itu akan datang segera. Tetapi, jika anda terus saja tidak mengalami tekanan, maka saya akan menguatirkan apakah anda mengerti apa arti menjadi orang Kristen. Anda pasti akan mengalami tekanan. Inilah arti dari kata 'penindasan'.
Lalu bagaimana sikap seorang Kristen dalam hal ini? Lihatlah Roma 5:3. Apa yang disampaikan oleh rasul Paulus di dalam Roma 5:3? Ini adalah kata-kata yang perlu anda tanamkan di dalam hati jika anda ingin menjadi orang Kristen sejati. Rasul Paulus berkata, "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Rom5:3-5). Perhatikan kata-kata "Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita". kata yang diterjemahkan dengan 'kesengsaraan' adalah kata yang sama dengan 'penindasan' dalam bahasa Yunani. Yaitu kata yang berarti 'tekanan': "kita bermegah di dalam tekanan".
Bagaimana jika dibandingkan dengan pemikiran anda? Sekarang ini, gereja dipenuhi oleh orang-orang yang menjadi Kristen karena mereka datang untuk memunguti manisan. Mereka masuk Kristen untuk menyenangkan hati sendiri. Tidak heran jika orang Kristen seperti ini segera mengeluh segera ketika tekanan mulai datang. Ketika beban mulai memberati mereka, mereka mulai mengeluh, "Hei, apa yang terjadi? Ada apa ini?" Ya, yang terjadi sebenarnya adalah anda mulai mengalami kehidupan Kristen. Jika ada pengkhotbah yang tidak memberitahukan anda bahwa ketika anda menjadi Kristen, anda akan masuk ke dalam tekanan, pengkhotbah itu tidak layak mengabarkan Injil. Ia tidak pantas mengabarkan Injil. Sangat banyak masalah yang saya dapatkan karena kelakuan para penginjil yang keluyuran mengejar pengikut baru. Orang-orang ini, ketika sudah memastikan bahwa seseorang bersedia membuat keputusan untuk mengikut Kristus, lalu segera beralih ke sasaran lain! Perhatiannya kepada orang malang yang baru mengambil keputusan itu berakhir sudah. Lalu para pendeta kebagian tugas untuk menghadapi keruwetan yang ditimbulkannya. Orang-orang datang kepada saya dan mengeluh, "Mengapa? Mengapa semuanya menjadi kacau? Ayah saya jatuh sakit; ibu saya dibelit masalah keuangan; dan usaha saya berantakan. Saya sendiri harus menghadapi masalah pribadi di sana-sini. Apa yang terjadi? Saya kan sekarang sudah jadi orang Kristen! Allah seharusnya memberi saya gula-gula!" Allah tidak pernah menjanjikan manisan kepada anda. Pelajarilah isi Alkitab! Jika anda tahu apa artinya menjadi orang Kristen, seharusnya anda bermegah bersama rasul Paulus yang berkata, "Bahkan lebih dari itu, kami justru bermegah di dalam kesengsaraan." Lalu anda menyahut, "Ada apa dengan Paulus? Apa dia sejenis orang gila? Apa dia jenis orang yang gemar siksaan?" Bukan, tapi Paulus orang yang memahami apa arti hidup sebagai orang Kristen; yaitu selalu berada di bawah tekanan. Saya harap anda mencamkan hal itu baik-baik. (Saya ucapkan sekali lagi bagi mereka yang kembali ke Hong Kong. Ingatlah: kalian dipanggil untuk menderita! Saya harap kalian memahami hal itu, paling tidak di dalam gereja ini. Jika anda pulang ke Hong Kong, anda akan masuk di dalam tekanan). Maka anda akan dapat bersyukur kepada Allah atas tekanan yang anda hadapi. Anda akan belajar untuk bersama rasul Paulus berkata, "Aku bermegah". Kita bermegah atas penderitaan, tekanan, yang harus kita tanggung.
 
2. Penganiayaan
Kata yang kedua adalah 'penganiayaan'. Anda belum benar-benar orang Kristen jika anda belum mengalami aniaya. Cepat atau lambat anda akan mengalaminya, dan bentuk aniaya yang paling buruk adalah yang berasal dari sesama orang Kristen. (Saya sampaikan sekali lagi bagi mereka yang kembali ke Hong Kong. Jangan kecewa jika kebanyakan aniaya yang anda alami akan berasal dari sesama orang Kristen). Ingatlah selalu, seperti yang sudah sering saya sampaikan, bahwa orang yang menganiaya Tuhan Yesus sebagian besar berasal dari kalangan religius. Golongan Farisi, adalah kelompok orang yang fanatik; golongan ahli Taurat, adalah para teolog; imam-imam di Bait Allah, adalah para pemimpin agama di jaman itu - ketiga kelompok inilah yang menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus. Ingatlah hal itu baik-baik!
John Wesley, seorang hamba Allah yang luar biasa, sepanjang hidupnya dianiaya oleh sesama orang Kristen. Tahukah anda akan hal itu? Bukan orang non-Kristen yang menimbulkan aniaya berat bagi John Wesley. Ia juga mengalami aniaya dari orang non-Kristen. Akan tetapi orang Kristenlah yang paling menyusahkannya. Pada awalnya, ia diusir dari Gereja Inggris (gereja resmi kerajaan Inggris, pent.). Ia tidak diijinkan untuk berkhotbah di dalam setiap cabang Gereja Inggris, karena ia mengajar tentang kekudusan, dan Gereja Inggris tidak mau mendengar khotbah tentang kekudusan. Mereka mengusirnya keluar sehingga John Wesley harus berkhotbah di jalanan, karena ia tidak lagi boleh berkhotbah di mimbar gereja. Namun syukur kepada Allah, karena melalui John Wesley terjadi suatu kebangkitan rohani yang luar biasa di Inggris, yang tidak pernah dapat diimbangi oleh peristiwa-peristiwa kebangkitan rohani lainnya sepanjang sejarah Inggris. John Wesley sadar bahwa ia akan mengalami penganiayaan. Ia tidak menyimpan keluhan terhadap mereka yang menganiaya dia. Ia tidak menyimpan dendam. Dan sekarang ini, Gereja Inggris sangat menyesali apa yang sudah mereka perbuat terhadap John Wesley dahulu. Mereka sekarang mencoba untuk merangkul Gereja Metodis agar mau kembali ke Gereja Inggris.
Ingatlah hal ini baik-baik. Bagi mereka yang melayani Tuhan (yang akan menghadapi aniaya). Jika anda setia kepada Injil, anda akan menghadapi penganiayaan dari orang non-Kristen sekaligus dari sesama orang Kristen. Kadang kala anda akan bertanya-tanya, "Mengapa saya dimusuhi semua orang?"
Di masa awal sejarah gereja, Athanasius, seorang hamba Allah yang luar biasa dari abad ke-4, mengalami pengucilan sampai tujuh kali. Siapa yang mengucilkannya? Sesama orang Kristen! Ia diusir keluar dari lingkungan gereja. Hanya cabang tempat ia melayani saja yang setia mempertahankannya. Gereja secara umum saat itu mengucilkan dia. Namun kemudian segala sesuatu mulai berbalik. Athanasius sekarang ini kita kenal sebagai seorang penyelamat besar di tengah lingkungan jemaat, ia menyelamatkan jemaat dari ancaman kesesatan yang mengerikan. Akan tetapi pada jamannya, ia sendiri malah dituduh sebagai orang sesat.
Sekarang kita sudah mendapatkan gambaran yang semakin jelas. Kata yang pertama adalah 'tekanan'. Kata yang kedua adalah 'penganiayaan'. Rasul Paulus berkata di dalam 2 Tim.3:11, "Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita." Dan ia melanjutkan dalam ayat berikutnya, ay.12: "Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya". Anda harus menderita aniaya. Jangan mengira bahwa anda adalah kekecualian! Jika anda ingin dikecualikan, jangan menjadi orang Kristen. Saat anda menjadi orang Kristen, sadari hal ini, "Saya akan menderita aniaya." Namun jika anda tidak ingin menderita aniaya, maka kemasilah barang-barang anda dan lupakan Kekristenan. Anda tidak usah menjadi orang Kristen sama sekali.
 
3. Pencobaan
Kata yang ketiga, yang kita dapati dalam Lukas 8:13, adalah kata 'pencobaan'. Kata 'pencobaan' di dalam bahasa Yunani memiliki dua makna. Makna pertama dari kata 'pencobaan' adalah ujian dari Allah. Jadi merupakan tindakan Allah untuk menguji anda. Dalam pengertian ini, terjemahan yang dipakai bukanlah 'pencobaan'; karena merupakan ujian. Kata Yunani yang sama dipakai di dalam 1 Pet.4:14 dengan makna pengujian ini. Di ayat ini, rasul Petrus berkata, "Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu." Di sini kata tersebut diterjemahkan dengan kata 'dinista' - menderita penistaan karena nama Kristus - dan diuji dengan cara ini. Ungkapan "ujian", berada di bawah tekanan, mengalami ujian Allah - diuji dengan api, seperti yang ada tertulis - merupakan bagian dari kehidupan orang Kristen. Anda akan selalu menghadapi ujian. Kita akan membahas hal itu sebentar lagi.
Makna kedua dari kata 'pencobaan' adalah digoda untuk berbuat dosa. Di sini pengertiannya sangat jauh berbeda. Dalam maknanya kali ini, Iblislah yang memegang peranan. Tentu saja, Iblis ikut berperan di dalam setiap ujian, dalam arti ia selalu mencoba untuk menjatuhkan anda, menjauhkan anda dari Allah. Namun, di dalam makna yang kedua ini, ia berperan langsung, bukannya sekadar dilibatkan. Ia menggoda anda untuk berbuat dosa; mengumpankan dosa kepada anda. Ia akan memamerkan kenikmatan dosa. Ia mencoba menjerat anda ke dalam dosa. Ini dapat kita lihat contohnya di dalam Lukas 4:13, di mana setan mencoba untuk menggodai Tuhan Yesus, mencoba untuk menjatuhkanNya.
 
Penderitaan Digambarkan dengan Sinar Matahari - ia dapat Membinasakan atau Memberi Pertumbuhan
Secara keseluruhan, kita dapat melihat bahwa penderitaan memang tidak terpisahkan dari kehidupan orang Kristen. Kita sudah melihat arti ketiga kata yang dipakai oleh Tuhan Yesus dalam menjelaskan mengapa benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu layu. Saya ingin agar anda memperhatikan perumpamaan ini sekali lagi. Di dalam perumpamaan ini, pernderitaan dibandingkan dengan matahari. Sangatlah penting untuk dapat memahami hal ini. Ia berkata bahwa ketika matahari terbit, maka benih yang tumbuh di tanah berbatu-batu itu mati, karena mereka tidak berakar dan tidak mendapat cukup air. Renungkanlah. Di dalam pengajaran Tuhan kali ini, matahari dibandingkan dengan penderitaan. Hal ini sangat penting. Matahari dapat membinasakan ataupun membantu pertumbuhan. Ini sebabnya saya nyatakan bahwa poin ini sangat penting untuk dapat memahami perumpamaan yang diajarkan Tuhan.
Tanpa matahari, tidak ada tanaman yang dapat tumbuh. Hal lain yang perlu anda ingat baik-baik adalah bahwa matahari sangatlah dibutuhkan, dalam pengertian tertentu, oleh tanaman yang menghasilkan buah. Ia memampukan mereka untuk dapat menghasilkan banyak buah. Akan tetapi bagi tanaman yang tidak berakar, ia akan membinasakannya. Penindasan sama seperti matahari. Ia akan membawa anda semakin masuk dalam kerohanian, atau akan membinasakan kerohanian anda, dan itu semua bergantung pada anda, bukannya pada matahari. Kita akan menelaahnya dengan lebih teliti sesaat lagi.
 
Tiga Perkara Fatal bagi Orang Kristen
Mari kita lihat mereka yang masuk kategori kedua dari orang percaya yang gagal bertahan, benih yang tumbuh di tengah semak belukar. Tentunya kita memahami bahwa benih itu tidak jatuh di tengah semak belukar yang sudah besar; pada awalnya semak itu tidak nampak. Mereka tumbuh bersama dan semak itu mencekik benih yang ditabur. Di bagian ini, kita juga melihat ada tiga hal yang berkaitan dengan semak belukar itu, khususnya jika kita melihat di dalam Markus 4:19. Inilah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus berkaitan dengan benih yang jatuh di semak belukar. Kita mulai dari ayat 18: "Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu," - sekarang perhatikan tiga hal yang disampaikanNya - "lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain..."
Perhatikan bahwa Tuhan Yesus menggunakan tiga kata bagi penderitaan: aniaya, tekanan dan pencobaan sehubungan dengan mereka yang tumbuh di tanah berbatu-batu. Selanjutnya, Ia memakai tiga ungkapan pula dalam hubungannya dengan mereka yang tumbuh di tengah semak belukar; yaitu, (1) kekuatiran dunia ini, (2) tipu daya kekayaan dan (3) keinginan-keinginan akan hal yang lain. Ketiga hal ini akan menjadi perkara yang fatal bagi orang Kristen yang coba-coba memberi lahan bagi hal-hal tersebut - mementingkan dunia, mementingkan masa sekarang.
 
Menghindari Penderitaan berarti Mengejar Kesenangan Duniawi
Sekarang cobalah tanyakan pada diri anda sendiri mengapa ketiga hal tersebut akan berdampak besar bagi orang Kristen. Seseorang yang tidak mau menderita adalah orang yang hanya ingin menikmati apa yang disebut 'kehidupan'. Ia ingin menghindari penderitaan. Jadi, pada dasarnya, hal yang sama berlaku di sini. Jika anda tidak ingin menderita, maka anda pasti akan pergi mengejar kekayaan. Mengejar kenikmatan duniawi. Itulah cara untuk lari dari penderitaan. Jadi kategori kedua ini (dari mereka yang percaya tetapi gagal bertahan) sebenarnya sama persis dengan mereka yang pertama, yang tumbuh di tanah berbatu-batu; mereka semua lari dari tekanan. Mereka ingin mencari pelarian di dunia ini, mereka kuatir jika sewaktu-waktu gagal, jika mereka tidak dapat meraih apa yang mereka kejar di dunia ini.
Pada dasarnya, mentalitas yang sama terdapat di dalam kelompok ini, dengan pengungkapan yang berbeda-beda. Mengapa seorang Kristen mencintai uang? Karena uang dapat menyingkirkan tekanan dari pundak mereka, bukankah begitu? Uang dapat menolong mereka untuk mendapatkan mobil mewah; uang dapat membantu mereka mendapatkan rumah yang lebih indah; uang dapat membantu mereka untuk meringankan beban dan penderitaan. Lagi pula, apa arti penderitaan sesungguhnya? Penderitaan sebenarnya berarti masuk dalam tekanan keuangan. Anda tidak mau berada di bawah tekanan keuangan, dan untuk itu anda berusaha untuk mendapatkan uang.
Apa artinya? Anda tidak ingin menghadapi aniaya; anda ingin dihormati semua orang. Bagaimana cara agar dihormati orang? Hanya jika anda memiliki uang! Anda dapat mengendarai mobil mewah; dapat menjalani hidup penuh gaya. Orang akan menghormati anda; mereka tidak akan menganiaya anda. Terlebih lagi, jika anda punya banyak uang, sangat berbahaya jika ada orang yang coba-coba menganiaya anda. Anda dapat membayar pengacara. Orang Kristen yang miskin tidak dapat menyeret anda ke pengadilan; tapi jika ia orang kaya, dan anda mengganggunya, maka ia akan menyeret anda ke pengadilan. Ia punya banyak pengacara. Jika anda memfitnahnya, atau mengucapkan hal-hal yang buruk tentangnya, anda akan masuk dalam masalah besar. Tidak ada orang yang berani mengganggu orang kaya, tapi banyak yang berani menyerang orang miskin. Orang miskin tidak dapat membela diri, tapi orang kaya mereka tidak berani serang.
Selanjutnya, tentu saja, anda mulai menginginkan banyak hal karena anda mampu membelinya. Orang miskin tidak punya uang untuk itu; ia hanya dapat mengkhayal tentang stereo tape. Jika anda tidak punya uang untuk membeli stereo tape, anda hanya bisa mengaguminya dari balik kaca. Tetapi orang kaya, dengan uang yang dimilikinya, ia menginginkan segalanya, karena ia memiliki kuasa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Jika ia ingin berlibur ke Florida (Amerika, pent.), ia segera berangkat ke sana. Dapatkah anda berlibur ke Florida? Tidak! Itu karena anda tidak cukup kaya. Jadi anda hanya bisa mengagumi Florida dari halaman majalah. Anda menikmati keindahan alam Florida dari gambar-gambar di majalah. Ada gambar kapal layar di sana, dan anda membayangkan, "Wah, seperti apa rasanya berlibur di sana." Anda hanya dapat menikmatinya dari kejauhan, lalu anda mulai membatin, "Saya harus mencari lebih banyak uang. Saya harus bekerja lebih keras lagi, sehingga saya dapat menikmati hidup ini."
Jadi kategori ini pun mencoba untuk lari dari penderitaan sejauh mungkin, dan mencari pelarian di dunia. Itu sebabnya saya sampaikan di bagian depan seluruh perbedaan (antara yang selamat dengan yang gagal, pent.) terletak pada pemahaman akan makna penderitaan serta kesediaan untuk menanggungnya. (1) Anda mungkin memahaminya, tetapi anda tidak mau menerimanya, hal ini tidak menolong anda. (2) Anda bersedia menerimanya, dan seperti Paulus, bermegah dalam kesengsaraan. Itulah perbedaan antara kelompok yang selamat dengan yang tidak selamat.
 
Penderitaan itu tidak Terelakkan dan Memang Perlu bagi orang Kristen
Sekarang kita sampai ke bagian kesimpulan tentang penderitaan. Hal pertama yang perlu saya sampaikan kepada anda berkaitan dengan penderitaan ini adalah ini: Penderitaan bagi orang Kristen tidak mungkin dapat dihindari. Sama seperti sinar matahari; matahari bersinar tidak hanya kepada orang non-Kristen akan tetapi juga bersinar atas orang Kristen. Ia bersinar atas semua orang. Ia akan membinasakan yang satu, tetapi juga membantu pertumbuhan yang lain. Alasan mengapa satu tanaman layu terkena sinar matahari bukan semata-mata karena terik matahari itu saja. Matahari tidak memusatkan sinarnya kepada satu titik saja; ia bersinar ke segala arah. Jika ia bersinar atas tanaman yang kemudian layu, ia juga bersinar atas tanaman yang semakin subur. Jadi sia-sia jika seseorang yang gagal lalu mengeluh, "Saya menderita lebih dari yang lain." Anda tidak menderita lebih dari yang lain. Saya jamin bahwa penderitaan anda tidak ada sepersepuluh dari penderitaan Paulus bagi Kristus. Tapi perhatikanlah orang Kristen yang lemah. Ia menggerutu setiap kali ada masalah. Selalu bertanya, "Mengapa Allah berbuat ini kepada saya?" Ia melakukan hal itu kepada anda karena anda memang membutuhkan sinar matahari. Tidak ada tanaman yang bertumbuh tanpa sinar matahari. Anda harus dapat bertahan. Benih yang jatuh ke tanah keras juga mendapat sinar matahari. Tentu saja ia tidak perlu kuatir karena ia tidak akan berlama-lama di sana. Matahari bersinar ke segala arah. Jadi dengan cara yang sama, di dalam hidup ini, tidak ada jalan untuk menghindari penderitaan dan aniaya. Anda dapat melarikan diri dengan mengandalkan dunia ini, namun itu hanya membuat anda masuk ke dalam masalah yang lain, sebagaimana yang sudah kita ketahui.
Dunia ini sangat menipu. Tampaknya anda diberi sesuatu yang baik; lalu anda dijerat untuk semakin jauh memasukinya; dan pada akhirnya anda mendapati bahwa penderitaan juga isinya, penderitaan dalam bentuk yang berbeda. Di dalam hidup ini, tidak ada tempat untuk lolos dari penderitaan, setidaknya dalam jangka panjang. Orang Kristen yang bijak sudah memahami hal itu. Ia tahu bahwa mereka yang kaya juga tidak dapat tidur nyenyak karena kuatir mungkin akan diculik demi tebusan; atau bank tempat ia menyimpan dananya ditutup; atau perusahaan asuransi yang menjaminnya bangkrut; atau harga saham-saham yang dibelinya ternyata anjlok; dan masih banyak lagi kekuatiran lainnya. Kekuatiran mereka tidak ada akhirnya. Siapa yang akan menerima warisan jika ia mati, dan apakah keluarganya akan berkelahi memperebutkan warisan itu nantinya. Ada yang lebih buruk lagi, yaitu mereka yang sudah kehilangan kesehatannya sebelum menjadi kaya. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan kepada anda, ada beberapa orang yang mengorbankan kesehatannya untuk dapat memperoleh kekayaan, lalu kemudian, sesudah menjadi kaya, mereka menggunakan kekayaan itu untuk mengembalikan kesehatan mereka. Dan hal yang begini sering terjadi.
Selanjutnya hal kedua yang perlu kita pahami sehubungan dengan penderitaan adalah ini: alasan mengapa anda bermegah atas penderitaan, jika anda adalah orang Kristen yang bijak, adalah karena anda tahu bahwa penderitaan membasmi dosa di dalam hidup anda. Kita dapati hal ini di dalam 1 Pet.4:1: "Barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa." Sudah cukup sering saya menyampaikan ayat ini kepada anda di dalam pendalaman Alkitab. Sangatlah penting untuk memahami bahwa: penderitaan akan memangkas akar-akar dosa. Penderitaan merupakan jalan untuk membasmi lalang di dalam hidup anda, membasmi sampai ke akarnya, jika anda ijinkan penderitaan itu bekerja, jika akar -akar lalang itu anda hadapkan ke matahari. Penderitaan akan memurnikan hidup anda. 1 Pet. 1: 6,7 memberitahu kita bahwa itulah ujian bagi iman kita, seperti emas yang diuji dengan api sehingga menjadi semakin murni. Atau, jika kita kaitkan dengan perumpamaan ini, sejalan dengan semakin teriknya sinar matahari, tanaman tersebut menancapkan akarnya semakin jauh ke dalam tanah. Kualitas kehidupan rohaninya meningkat karena ia tahu bahwa ia harus bergerak lebih jauh lagi ke dalam untuk dapat menyerap semakin banyak air yang dibutuhkannya.
Yang ketiga, penderitaan pada kenyataannya adalah tanda dari kasih Allah. Sinar matahari demikian indahnya! Sinar matahari yang membantu pertumbuhan tanaman, mengapa ia membinasakan tanaman yang tidak berakar? Jika anda memiliki akar, tanaman yang memiliki akar justru menikmati sinar matahari. Sangat luar biasa! Ia bertumbuh justru karena sinar matahari. Ini menggambarkan kasih Allah kepada kita. kita mendapatinya, sebagai contoh, dalam Ibr.12:10. Kita diberitahu bahwa melalui penderitaan dan disiplin, kita dapat beroleh bagian dalam kekudusanNya. Tahukah anda akan hal itu? Kekudusan hanya dapat dimasuki melalui penderitaan. Allah memberi penderitaan agar supaya "kita beroleh bagian dalam kekudusanNya" - Ibr.12:10 memberi tahu kita - supaya kita dapat menjadi serupa dengan Dia. Secara umum, Ibrani 12:3-11 berbicara tentang fakta bahwa Allah mendisiplin kita karena Ia mengasihi kita. Saya mendisiplin anak saya karena saya mengasihinya. Disiplin adalah ungkapan kasih dan kepedulian saya. Saya tidak mendisiplin anak tetangga saya, karena itu anak orang lain, jika anak itu melakukan kenakalan, seperti merusak rumahnya sendiri, maka itu bukan tanggung jawab saya. Saya tidak akan mendatanginya dan menegur, "Mengapa kamu merusak rumah kamu?" Itu adalah urusannya sendiri. Jika orang tuanya tidak menghentikannya, mengapa saya harus melakukannya? Akan tetapi saya mempedulikan anak saya. Jika anak saya melakukan hal itu, maka saya akan mendisiplinnya. Hal ini akan melukai hatinya; dan saya juga, akan tetapi penderitaan adalah ungkapan dari kasih.
 
Kita Dipanggil untuk Masuk dalam Persekutuan Penderitaan Yesus
Dan terlebih lagi, kita dipanggil untuk masuk ke "persekutuan dalam penderitaan-Nya" (Flp.3:10). Kita dipanggil untuk masuk ke sana. Bagaimana menurut anda? Apakah anda curiga bahwa saya sakit jiwa karena berbicara seperti ini? Tuhan Yesus berbicara tentang hal yang sama: "Barangsiapa yang ingin mengikut Aku, ia harus memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku." Anda mau mengikut Yesus? Anda harus berjalan di belakangNya. Ia memikul salibNya; dan anda memikul salib anda. Anda mengikut Dia dalam - "persekutuan dalam penderitaan-Nya". Hal ini sangat penting untuk dipahami. Dan hal ini juga mengandung berbagai macam makna:
Pertama, itu berarti bahwa ketika anda menanggung penderitaan, maka anda dipandang sebagai muridNya. Anda mengikut jejakNya. Di dalam 1 Pet.2:21 dikatakan bahwa Ia meninggalkan teladan untuk kita ikuti jejakNya. Itu sebabnya ketika anda menanggung penderitaan maka anda mengerti bahwa adalah seorang murid. Penderitaan ini adalah buktinya.
Kedua, penderitaan ini membuktikan bahwa kita memuliakan Kristus dengan tubuh kita. Rasul Paulus berkata bahwa ia bermegah di dalam penderitaannya. Di dalam Filipi 1:20 ia berkata, "Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah ... Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku." Di mana ada orang Kristen seperti ini sekarang? Di mana kita dapat menemukan orang seperti itu? Orang sekarang hanya ingin hidupnya saja, bukan matinya. Paulus berkata, "Aku lebih suka mati." Ia tidak takut mati karena "Kristus dimuliakan dengan matiku". Kita melihat bagaimana ia berkeras untuk pergi ke Yerusalem sekalipun yang lain berusaha mencegahnya. Ia tidak pernah takut untuk mati. Ia akan memuliakan Allah di dalam penderitaannya.
Ketiga, kita dapati bahwa hanya melalui penderitaan kita akan dapat mengenal Yesus sampai ke tingkat yang terdalam. Kepada orang Kristen semacam inilah kita perlu bersekutu, sayangnya mereka tergolong langka. Dengan mereka anda dapat bersekutu sampai tingkat yang terdalam. Anda tahu mengapa? Karena mereka benar-benar mengenal Yesus. Bagaimana cara mereka mengenal Yesus? Di mana mereka mengenal Dia? Di dalam kelas penderitaan! Seorang Kristen yang telah mengalami penderitaan akan memiliki kedalaman yang tidak dimiliki oleh orang Kristen lainnya. Mereka memiliki kedalaman. Mereka benar-benar mengenal Yesus - bukannya sekadar berkata, "Aku percaya padaNya." Mereka mengenal Yesus sampai ke tingkat yang terdalam. Ini adalah jenis orang Kristen yang sudah langka sekarang ini. Jika suatu hari nanti anda mendapat kesempatan untuk bertemu dengan saudara-saudara seiman di China, anda akan mengerti maksud saya. Orang yang sudah pernah mengalami kesulitan di tempat kerja paksa adalah orang Kristen dengan kualitas yang berbeda. Ia bukanlah tipe orang Kristen mingguan. Bukan pula orang Kristen yang gemar piknik. Ia adalah orang Kristen yang sudah mengalami masa kerja paksa, penderitaan, pukulan dan interogasi. Ada kualitas yang berbeda di dalam diri orang-orang ini. Mereka mengenal Yesus secara khusus.
Inilah yang Paulus rindukan. Ia berkata, "Apakah engkau ingin mengenal Yesus? Saya beritahu cara untuk mengenal Yesus. Kamu dapat mengenalNya di tempat penderitaan." Jika anda tidak ingin menderita, maka anda tidak akan mengenal Yesus. Anda tidak akan dapat mengenal Yesus dengan memasuki sekolah Alkitab dan belajar di sana. Itu bukan tempat untuk mengenal Yesus; itu tempat untuk memperoleh pengetahuan akademis. Tempat untuk memperoleh gelar akademis, tetapi bukan tempat untuk mengenal Yesus. Tidak seorang pun yang lulus dari sekolah Alkitab memiliki pengenalan akan Yesus seperti pengenalan yang dimiliki oleh Paulus, dengan cara sebagaimana yang sudah kita bicarakan. Tak seorangpun lulusan dari sekolah Alkitab yang memiliki pengenalan akan Yesus seperti saudara-saudara di China yang mungkin tidak memiliki pendidikan tinggi, tetapi dipenjarakan karena Tuhan Yesus. Saya beritahukan kepada anda, jika anda berbicara dengan kedua macam orang ini, maka anda akan melihat perbedaan seperti langit dan bumi. Mereka merupakan dua tipe orang yang berbeda sepenuhnya. Saya sudah pernah bertemu dengan kedua macam orang ini; saya sudah melihat perbedaannya. Yang satu mengenal Yesus; yang satunya lagi hanya memiliki pengetahuan tentang Yesus. Perbedaannya sangatlah besar.
Yang mana yang anda inginkan? Jika anda ingin tahu lebih banyak tentang teologi, ada banyak toko buku Kristen di kota anda. Beli saja beberapa buku dan bacalah. Anda ingin mendapat pengetahuan teologis yang sistematis, cari bukunya dan bacalah. Namun anda tidak akan mengenali Yesus lebih mendalam hanya berbekalkan buku-buku itu. Mengenal Yesus hanya dapat dilakukan di dalam kelas penderitaan, di dalam persekutuan dalam penderitaanNya. Itu sebabnya mengapa di dalam Filipi 3:10, rasul Paulus berkata, "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya". Ia meletakkan semua itu di dalam satu kalimat. Mengapa? Karena memang tidak terpisahkan. Apakah anda ingin mengenal Dia? Anda akan dapat mengenalNya di dalam persekutuan dalam penderitaanNya. Itulah saat di mana Ia menjadi lebih dekat kepada anda; saat di mana anda paling membutuhkan Dia; dan saat di mana Ia akan berbicara dengan sangat jelas kepada anda.
Saya menyampaikan hal ini berdasarkan pengalaman. Masa tiga tahun di China, ketika saya menghadapi kelaparan dan aniaya sampai batas tertentu, adalah saat di mana saya melangkah di dalam persekutuan yang termanis dan terdekat dengan Tuhan Yesus. Di bawah tekananlah, di dalam "persekutuan dalam penderitaanNya" saya mengenalNya secara mendalam - saat yang jauh lebih berharga ketimbang masa belajar di sekolah Alkitab, ketimbang masa kuliah ketuhanan. "Persekutuan dalam penderitaanNya!" Saya harap semua ini membantu anda dalam memahami makna penderitaan, makna dan nilai dari penderitaan. Saat menanggung penderitaan adalah masa di mana anda mengalami kedekatan yang paling erat dengan Yesus.
Namun itu terjadi hanya jika anda menancapkan akar lebih jauh ke dalam tanah. Penderitaan juga dapat menjauhkan anda dari Tuhan, sebagaimana yang terjadi dengan dua kategori yang murtad, atau menarik anda kepada Allah, tergantung pada anda, pada kondisi hati anda. Jika anda mengalami penderitaan, bersyukurlah kepada Allah, katakanlah, "Sekarang kesempatan saya untuk dapat mengenalNya." Mendekatlah kepadaNya. (Saya sampaikan sekali lagi, khususnya kepada mereka yang kembali ke Hong Kong, anda akan mengalami saat-saat yang sulit melalui dua macam hal: Dunia ini menjadi sangat memikat bagi anda, dan menggoda anda dengan berkata, "Tinggalkan saja kesukaran hidup sebagai orang Kristen. Beralihlah ke pihak kami!" Atau jika anda menolak, maka anda akan berada di bawah tekanan berat.) Bertahanlah di dalam Tuhan, maka anda akan mendapati bahwa Tuhan Yesus mendampingi anda - dalam persekutuan dengan anda. Maka anda akan dapat merasakan manisnya suatu persekutuan. Anda tidak akan pernah tahu seberapa dekat Yesus bagi anda sampai tibanya saat penderitaan itu. Anda akan berkata, "Tuhan, saya tidak pernah tahu sebelumnya bahwa Engkau begitu dekat di sisi saya. Engkau selalu bersama saya setiap saat." Di dalam setiap penderitaan anda, anda akan mendapati bahwa Ia pun ikut menderita bersama anda.
 
Kesempatan Istimewa untuk Menanggung Penderitaan Besar Hanya Tersedia bagi mereka yang Luar Biasa
Terakhir, ada satu kategori penderitaan yang saya sendiri tidak berani menyebutkannya, karena kategori penderitaan yang satu ini disiapkan hanya untuk orang-orang pilihan Allah, bejana kemuliaan Allah. Ini adalah kesempatan istimewa untuk menanggung penderitaan yang hanya disediakan bagi mereka yang sudah ditentukan oleh Allah. Kebanyakan di antara kita tidak layak untuk menjalaninya. Anda tahu ketika Allah memilih Paulus, inilah yang dikatakanNya di dalam Kisah 9:15-16: "Orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku" dan "Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku." Apakah anda ingin menjadi alat pilihan? Itu dia! Saya sudah mendengar banyak orang yang berkata, "Tidak adil. Allah memilih Paulus." Apakah anda bersedia menanggung penderitaan hebat? Anda dapat saja menjadi Paulus yang berikutnya. Anda berpeluang untuk itu. Namun, sebelum saatnya tiba, jangan terlampau yakin akan hal itu. Hal lainnya adalah, jika Dia memilih anda, maka anda akan memikul beban salib yang luar biasa beratnya di pundak anda. Paulus adalah jenis orang yang bermegah di dalam kesengsaraan. Allah memilih dia dan berkata, "Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku."
Saya teringat pada Wang Ming Dao sebelum ia masuk ke penjara. Ia berkata, "Saya tidak layak untuk menderita bagi Kristus." Ia terus menerus berkata bahwa ia tidak layak untuk menderita bagi Kristus. Mungkin ia menyadari poin ini: dipanggil untuk menderita bagi Kristus adalah suatu kesempatan yang sangat istimewa, yang tidak diberikan kepada sembarang orang. Orang-orang Kristen di China tahu persis akan hal ini. Akhirnya Wang Ming Dao mendapat kesempatan istimewa ini. Apakah ia masih hidup sekarang ini, kita tidak tahu persis. Akan tetapi ia, paling tidak, memahami bahwa ini adalah kesempatan istimewa yang tidak diberikan kepada sembarang orang.
Apakah anda melihat hal ini sebagai suatu kesempatan istimewa? Apakah mata anda terbuka bagi pemahaman akan makna penderitaan? Jika ya, maka anda akan menjadi bagian dari mereka yang tidak saja menghasilkan buah, akan tetapi menghasilkan sampai tigapuluh, enampuluh atau bahkan seratus kali lipat.

Sumber: Cahaya Pengharapan Ministries www.cahayapengharapan.org

Perumpamaan Tentang Kantong Kulit Yang Lama Dan Yang Baru

Matius 9:14-17 - Disampaikan Oleh Pendeta Eric Chang
Fasal ini dalam Matius 9:14-17 merupakan suatu fasal yang sangat penting di dalam pengajaran Tuhan Yesus. Kepentingannya dapat dilihat dari kenyataan bahwa fasal ini diulang-ulangi di dalam Injil Matius, Markus dan Lukas. Mari kita membaca fasal ini:
Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."
Di sini kita melihat bahwa beberapa dari murid-murid Yohanes datang kepada murid-murid Tuhan Yesus dan berkata, "Mengapa kami berpuasa, dan orang Farisi juga berpuasa, tetapi kamu tidak berpuasa?" Tuhan Yesus menjawab, "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?"
Berpuasa mengungkapkan dukacita karena dosa. Berpuasa juga berguna untuk mendisiplinkan diri terhadap dosa - yaitu, untuk melawan dosa di dalam kehidupan kita. Berpuasa itu sangat berguna, tetapi tidak pada waktu Tuhan Yesus sedang bersekutu dengan murid-murid-Nya. Tuhan Yesus berkata, "Tetapi waktunya akan datang mempelai itu (Tuhan Yesus sendiri) diambil dari mereka (murid-murid-Nya) dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa." Dengan kata lain, Ia berkata, "Waktunya akan datang apabila Aku tidak lagi bersama mereka secara jasmani, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa."
Kemudian Ia melanjutkan untuk berkata, "Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Kain yang baru belum pernah susut, karena itu apabila ditambalkan pada baju yang lama, kain yang baru itu akan susut dan mengoyakkan yang lama. Begitu pula anda tidak menuangkan anggur baru ke dalam kantong yang lama karena anggur yang baru meragi dan berkembang." Anda harus menyimpan anggur yang baru ke dalam kantong yang baru karena kantong yang baru masih segar dan lembut, dan masih dapat berkembang. Pada waktu itu, mereka tidak menggunakan botol. Mereka menggunakan kulit binatang untuk menyimpan air dan anggur. Karena itu apabila anggur yang baru, yang masih berkembang tatkala meragi,  diisikan ke dalam kantong kulit yang baru, semuanya baik-baik saja. Tetapi jika anda menyimpan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, yang telah menjadi keras dan tidak lagi fleksibel, apabila anggur yang baru itu mengembang, ia akan menghancurkan kantong kulit itu."
Pertama anda akan bertanya: mengapa suatu saat Tuhan berbicara tentang mempelai dan saat berikutnya berbicara tentang kain dan anggur? Apa hubungannya satu dengan yang lain? Yesus menggunakan bahasa kiasan tetapi apa pertaliannya satu dengan yang lain?
Saya selalu kagum akan pengajaran Tuhan. Sebagaimana anda tahu, dua hal yang tidak bisa kekurangan di dalam upacara perkawinan adalah baju baru dan anggur baru. Anda tidak mengharapkan mempelai laki-laki atau mempelai perempuan untuk datang ke perkawinan dengan pakaian lama yang ditambal di sana sini. Pada setiap perkawinan, pasti ada anggur, yang mengungkapkan rasa sukacita. Anda pasti masih ingat, pada upacara perkawinan yang pertama kali dihadiri oleh Tuhan Yesus di Kana, mereka kekurangan anggur, dan Tuhan Yesus menyediakan anggur baru untuk mereka apabila Ia mengubah air menjadi anggur.
Kalian yang pernah membaca buku tentang kebangkitan rohani di Indonesia tahu bahwa Tuhan Yesus masih melakukan hal-hal seperti itu kalau perlu. Anda harus ingat bahwa Tuhan Yesus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Pada waktu kebangkitan rohani di Indonesia, ribuan orang datang kepada Tuhan, dan mereka dibaptiskan di dalam laut, dan begitu mereka ingin mengadakan Perjamuan Kudus. Dapatkah anda bayangkan lima atau enam ribu orang mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus? Anda membutuhkan roti yang banyak sekali, meskipun setiap orang hanya mengambil sepotong yang kecil. Bagaimana dengan anggur? Di Indonesia, tidak ada tempat untuk mendapatkan anggur merah. Dari mana anggur merah yang mewakili darah Kristus itu harus datang? Dari mana mereka mendapatkan anggur merah? Jadi mereka berkata, "Nah, kita akan mengadakan Perjamuan Kudus sekarang, tetapi kita tidak bisa makan roti dan minum air putih saja. Tetapi dari mana kita mendapatkan anggur?"
Maka mereka berkumpul bersama dan berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, apa yang harus kami lakukan?" Salah seorang dari mereka yang memiliki karunia bernubuat berkata, "Penuhkan kendi-kendi itu dengan air." Lalu mereka berdoa selama setengah jam, dan apabila mereka menuangkan airnya keluar, mereka mendapati anggur yang keluar. Air telah berubah menjadi anggur merah. Hal ini terjadi bukan sekali, atau dua kali atau tiga kali, tetapi saya percaya pada waktu laporan itu ditulis, hal itu sudah terjadi lebih dari sepuluh kali. Buku itu ditulis oleh seorang Jerman yang agak skeptis tentang kejadian-kejadian semacam ini, sebagaimana kebiasaannya orang Jerman. Tetapi sesudah ia menyaksikan kejadian-kejadian ini, ia menjadi malu dan direndahkan, karena ia melihat dengan matanya sendiri. Yesus memang tetap sama hari ini.
Tetapi pelajaran apa yang dapat ditarik dari peristiwa air berubah menjadi anggur ini? Memang benar, tujuannya untuk menyediakan anggur bagi orang-orang ini pada Perjamuan Kudus, tetapi lebih penting adalah pelajaran bahwa Tuhan Yesuslah yang mengubah kita. Itulah sebabnya di dalam firman Tuhan, selalu disebutkan tentang anggur baru. Mengapa anggur baru? Mengapa baju baru? Kuasa - itulah intinya. Proses meragi digunakan untuk menunjukkan kepada kita kuasa Injil. Untuk mengubah sesuatu, anda membutuhkan kuasa.
Kain yang lama menunjuk kepada apa? Rasul Paulus berkata di Efesus 4:22 dan beberapa tempat yang lain bahwa kita harus menanggalkan pakaian yang lama (yang melambangkan kehidupan yang lama) dan mengenakan yang baru (yaitu, mengenakan Kristus). Dengan kata lain, menjadi seorang Kristen bukan berarti menambalkan beberapa cerita Injil kepada manusia lama itu; bukan berarti menambahkan sedikit iman kepada karakter dan sifat anda yang lama itu. Menjadi seorang Kristen berarti suatu perubahan yang menyeluruh dimana anda menanggalkan yang lama dan mengenakan manusia yang baru. Justru itulah yang dimaksudkan Paulus dalam 2 Korintus 5:15-17, menjadi seorang Kristen berarti menjadi suatu ciptaan baru. Menjadi seorang Kristen bukan menambahkan sedikit agama kepada manusia lama, tetapi menjadi manusia yang baru. Melalui manusia baru inilah kemuliaan dan kuasa Tuhan Yesus diperlihatkan.
Yang mana lebih menakjubkan - mengubah air menjadi anggur, atau mengubah seorang berdosa menjadi seorang kudus? Menurut saya kedua-duanya mengherankan tetapi menurut saya mengubah seorang berdosa menjadi seorang kudus jauh lebih berarti. Perubahan air menjadi anggur dimaksudkan untuk mengacu kepada perkara yang jauh lebih berarti dan lebih penting itu, yaitu perubahan seluruh karakter dan kehidupan kita.

Beberapa Orang Hanya Menghendaki Agama Untuk Merasa Bagus Dan Aman
Jika anda telah mengalami kuasa Tuhan Yesus yang mengubah kehidupan anda, anda sedang dalam perjalanan untuk mengenal Dia. Menjadi seorang Kristen tidak berarti menambahkan sedikit agama ke dalam kehidupan anda. Barangkali anda berkata, "Nah, kehidupanku tidak sempurna. Aku merasa sedikit kosong; aku ada satu lubang kecil di sini dan satu lubang di sana, karena itu aku akan mengambil sedikit Kekristenan dan menambal lubang-lubang itu." Tuhan Yesus berkata, "Jangan melakukan itu. Jika kamu melakukan itu, kamu akan bertambah buruk pada akhirnya. Kamu akan bertambah buruk. Keadaan kamu yang terakhir akan lebih buruk dari keadaan yang semula." Cobalah, dan anda akan tahu bahwa kata-kata Tuhan ini adalah benar. Mereka adalah orang-orang yang sesudah mendengar Injil, memilih apa yang mereka suka dan menolak apa yang mereka tidak suka. Mereka mengambil secarik Injil yang mereka sukai dan mereka berkata, "Aku suka yang ini tetapi aku tidak suka bagian tentang komitmen total itu. Aku tidak suka yang itu. Sedikit agama itu baik untuk aku tetapi jangan terlalu banyak. Jika aku terlalu beragama, aku akan menjadi fanatik. Nah, aku tidak mau menjadi fanatik!"
Saya sudah mendengar banyak orang yang berkata, "Adalah baik kalau ke gereja sekali seminggu." Bagaimana kalau dua kali seminggu? "Ah tidak, dua kali terlalu banyak." Atau, anda mendengar seorang pendeta berkata, "Ambillah sedikit, bagus untuk kamu. Jangan ambil terlalu banyak. Itu tidak bagus untuk kamu." Apakah anda menerima segala sesuatu yang dikatakan Yesus? Karena itu, gereja dipenuhi dengan pengemis. Jika anda melihat seseorang memakai pakaian yang ditambal di sana sini, apa yang anda pikirkan? Seorang pengemis! Entah pakaian anda berlubang-lubang entah ditambal-tambal, bagaimanapun anda seorang pengemis. Dan gereja penuh dengan pengemis. Mereka itu orang-orang yang datang ke gereja dan berkata, "Bagian ini aku suka; aku akan menerima yang ini. Bagian yang lain itu terlalu banyak, terlalu keras untukku; aku tidak dapat menahannya. Aku cukup menambal di sini saja."

Ada Yang Bahkan Bermegah Karena Iman Mereka Yang Tambal Sulam
Ada juga yang sangat bermegah karena pakaian mereka yang tambal sulam itu. Mereka berkata itulah gaya yang paling baru. Umpamanya apabila anda pergi ke toko-toko pakaian, anda akan menemukan beberapa jaket dan celana panjang yang ditambal di sana sini, dan mereka jauh lebih mahal dari yang tak ditambal-tambal. Pernah sekali saya bertanya kepada pelayan toko, "Mengapa pakaian ini ditambal-tambal? Mengapa begitu mahal? Dan di bawah, benang-benangnya sudah keluar dari hujung celana itu. Bagaimana kamu bisa menjual barang-loak ini lebih mahal dari yang baru?" Jawabannya ialah, "Ini bukan barang-loak; ini baru." Lalu saya bertanya, "Mengapa ditambal-tambal?" Ia berkata, "Itulah gaya paling baru." Lalu saya bertanya, "Mengapa lebih mahal sedangkan sudah ditambal-tambal?" Ia berkata, "Nah, kamu harus membayar tenaga kerjanya. Tenaga kerja sangat mahal pada masa sekarang. Jauh lebih banyak tenaga kerja dibutuhkan untuk menjahit potongan-potongan kain itu kembali. Sesudah kamu menjahit mereka kembali, kamu harus mengoyak setiap benang itu dengan tangan supaya kelihatan koyak."
Dunia ini benar-benar sudah terbalik. Anda harus membayar lebih untuk kain buruk daripada pakaian yang bagus. Anda harus membayar toko-toko itu untuk mengoyak-goyakkan celana anda. Tetapi terdapat begitu banyak orang Kristen di dalam gereja yang berbangga karena iman mereka yang tambal sulam itu. Mereka bahkan berpikir ia tampak cantik. Dan kadang-kadang mereka merasakan bahwa celana mereka belum cukup kotor, lalu mereka menggosok-gosoknya supaya mereka tampak lebih kotor. Mereka pikir celana mereka tampak lebih bagus begitu.
Jangan Memetik Dan Memilih
Kalau anda ingin menjadi seorang Kristen yang sejati, janganlah memetik dan memilih bagian Injil yang sesuai dengan selera anda. Pada permulaannya, barangkali anda berpikir celana anda tampak bagus; anda menyukai tambalan itu. Akan tetapi apabila hujan turun, anda akan mengalami masalah. Tambalan itu kelihatan bagus sehingga hujan turun. Apabila celana anda mulai kering, apa terjadi kepada tambalan itu? Kain yang belum susut itu akan mulai susut dan mencabik-cabik anda. Itulah sebabnya mengapa terdapat begitu banyak korban di dalam gereja masa kini. Banyak orang pergi ke gereja yang suka memetik dan memilih apa yang ingin mereka dengar, dan dalam masa dua atau tiga tahun, mereka menjadi bingung dan dicabik-cabik secara rohani.
Anda harus memilih antara mengenakan seluruh pakaian keselamatan atau tidak mengenakannya sama sekali. Alasannya karena terdapat kuasa di dalam Injil - bahkan secarik kecil yang anda keluarkan mempunyai kuasa. Kuasa itu cukup untuk membinasakan, dan membuat manusia lama anda sengsara. Orang Kristen 'satu-suku atau tiga-suku' semacam ini akan merasa tidak nyaman sebelum terlalu lama. Saya pernah melihat beberapa orang yang melakukan hal seperti ini dan mereka sedang menuai hasilnya. Pada tahap itu, kadang-kadang sangat sulit untuk menolong mereka lagi. Injil sangat berkuasa dan sebaiknya anda jangan bermain-main dengannya. Sekalipun anda mengambil sedikit darinya dan berkata, "Sedikit ini tidak akan menyakiti aku. Jika aku mengambil terlalu banyak, aku akan menjadi seorang fanatik. Aku akan mengambil secarik yang kecil ini; tidak mungkin menyakiti aku." Biar saya katakan kepada anda, Injil sangat berkuasa. Secarik yang kecil itu akan menyebabkan anda merasa sangat tidak nyaman. Jadi Tuhan Yesus berkata, "Kamu tidak bisa menerima keselamatan yang Aku berikan sedikit demi sedikit. Kamu menerima semuanya, kamu mengambil seluruhnya, atau jangan mengambil apa-apa sama sekali."
Prinsip yang sama berlaku untuk kantong kulit itu. Ada banyak ayat-ayat Perjanjian Lama mengenai pakaian yang melambangkan kehidupan manusia. Ayat-ayat itu termasuk Yesaya 50:9, 51:8, 61:10 dan Mazmur 102:26. Dalam ayat-ayat ini, pakaian (atau baju) mewakili kehidupan manusia.
Dari ayat-ayat ini, saya ingin menunjukkan kepada anda bahwa seringkali apabila anda mempelajari pengajaran Tuhan dan tidak mengertinya, itu karena anda tidak mengerti Perjanjian Lama. Prinsipnya ialah: Jika anda menemukan sesuatu yang tidak anda mengerti, carilah di dalam Perjanjian Lama dan hal itu akan dijelaskan kepada anda di situ. Jika anda tidak mengerti apa yang diwakili oleh pakaian atau kantong kulit, maka carilah di dalam Perjanjian Lama dan di situ anda akan menemukan penjelasannya.
Dalam Ayub 32:19, kita mendapati bahwa hati manusia digambarkan sebagai kantong kulit: Sesungguhnya, batinku seperti anggur yang tidak mendapat jalan hawa, seperti kirbat baru (atau, kantong kulit) yang akan meletup. Dalam Mazmur 119:83, pemazmur menggambarkan dirinya seperti kirbat (atau, kantong kulit) yang diasapi. Dalam Yeremia 13:12, penduduk Yerusalem dibandingkan dengan kantong kulit.
Anda tidak bisa mengambil anggur baru Injil dan diisikan ke dalam kehidupan anda yang lama karena anggur baru itu berkuasa; apabila ia mengembang, ia akan meletupkan seluruh kehidupan yang lama. Injil akan mengoyak habis kehidupan anda yang lama. Kehidupan yang lama dan Injil tidak dapat berjalan bersama-sama. Dengan kata lain, anda tidak dapat hidup di dalam dosa dan masih percaya kepada Injil. Tidak akan berhasil. Anda tidak dapat menjalankan suatu kehidupan yang mementingkan diri, yang sombong, yang egois dan masih berharap untuk percaya kepada Injil. Mereka tidak sepadan. Hanya apabila anda siap untuk berkata, "Tuhan, ubahlah aku sepenuhnya. Aku akan menanggalkan dosa-dosaku; aku akan menanggalkan kehidupanku yang lama." Hanya sesudah itu anda dapat menerima anggur baru Injil.
Apabila saya memberitakan Injil, saya tidak berbicara tentang agama; saya berbicara tentang kuasa Allah. Saya tidak meminta anda untuk lebih giat beragama. Saya juga tidak meminta anda memeluk suatu agama atau menjadi saleh dan kudus di luar. Injil ialah kuasa Allah yang menyelamatkan. Anda tidak dapat menyelamatkan diri anda, tetapi Allah dapat menyelamatkan anda. Sesudah anda mengalami kuasa-Nya, anda akan mengerti apa yang sedang kita bicarakan.
Di dalam Alkitab, pakaian baru melambangkan sukacita. Di Negeri Cina, pada perayaan Imlek, kami semua mengenakan pakaian baru. Semua anak-anak kecil memakai pakaian baru. Mereka tidak banyak berlari kiri kanan karena takut mengotorkan pakaian baru mereka. Itulah satu-satunya waktu mereka berkelakuan baik. Dan mengapa mereka begitu bersukacita? Karena itu adalah Tahun Baru Cina!
Anggur juga melambangkan sukacita di dalam Alkitab. Tatkala Roh Kudus masuk ke dalam kehidupan anda, anda akan mengenal apa itu sukacita. Sebelum saya mengenal Tuhan, saya tidak pernah mengetahui apa itu sukacita. Saya tidak mengerti apa itu sukacita. Setiap hari saya bertanya, "Apa artinya kehidupan ini? Begitu tidak berarti!" Sepanjang masa kanak-kanak saya, saya dibesarkan di tengah-tengah penderitaan. Kenangan pertama tentang masa kanak-kanak saya di Negeri Cina adalah peperangan - peperangan antara Jepang dan Cina. Terjadinya begitu banyak penderitaan. Banyak keluarga dipisahkan. Bapa saya meninggalkan kami untuk melawan orang Jepang. Ibu saya dan saya menangis ketika kami melihatnya masuk medan pertempuran, tanpa mengetahui apakah kami akan melihatnya lagi, atau entah kapan kami akan melihatnya lagi. Ternyata saat ia kembali, saya tidak dapat mengenalnya lagi karena saya terlalu muda saat ia pergi. Lima tahun adalah waktu yang lama. Saya tidak pernah menikmati kehidupan kekeluargaan karena peperangan itu.
Kemudian, tidak lama sesudah berakhirnya Perang Jepang, terjadi pula perang saudara di Negeri Cina - kali ini pihak Nationalist berperang melawan pihak Komunis. Sekali lagi terjadinya kesengsaraan di mana-mana. Tidak cukup makanan, tidak cukup segala sesuatu. Setiap hari anda melihat pengungsi di jalan-jalan, dan mereka sedang menderita. Banyak kali saya melihat mayat-mayat terlantar di mana-mana - entah terbunuh dalam perang entah membunuh diri karena tidak tahan lagi. Saya dibesarkan dalam peperangan, dan jika anda bertanya kepada saya, "Apa itu sukacita?" Saya tidak tahu. Saya tidak ada gambaran sama sekali.
Salah satu kesan yang paling mendalam dalam benak saya adalah pada waktu saya berdiri diluar apartemen dan melihat pesawat-pesawat datang. Saya melihat bom-bom dijatuhkan di depan mata saya dan membunuh tiga ribu jiwa - tiga ribu jiwa yang telah begitu banyak menderita, tiga ribu jiwa yang tidak tahu apa-apa tentang peperangan itu. Semua yang mereka maukan adalah suatu kehidupan yang tenteram. Jika anda bertanya kepada saya, "Ada apa yang memberikan kebahagiaan?" Saya tidak dapat menjawab anda. Apakah artinya kehidupan ini? Mengapa kita perlu saling membunuh? Mengapa orang-orang malang yang tidak cukup makan ini harus dibom sampai mati? Kalau tidak mati, mereka menjadi pincang atau buta. Tidak cukup susahkah untuk menjalani kehidupan ini apa adanya?
Kali pertama saya mengerti apa yang menyebabkan semua kekacauan ini adalah pada saat saya mengerti Injil oleh anugerah Tuhan. Dosalah yang menyebabkan manusia berkelakuan seperti ini. Dunia ini tidak akan menjadi lebih baik sehingga dosa disingkirkan. Tetapi dosa begitu berkuasa. Bagaimana mungkin kita dapat melawan dosa? Kita semua adalah hamba-hamba dosa, dan ini termasuk pemimpin-pemimpin dunia ini. Bagaimana mungkin mereka dapat menyeret diri mereka keluar dari dosa? Anda bisa duduk di PBB dan merundingkan cara-cara untuk memecahkan masalah-masalah dunia ini tetapi anda tidak dapat memecahkan persoalan dosa! Itulah sebabnya mengapa akan selalu ada peperangan di dunia ini selama masih ada manusia. Itulah sebabnya mengapa setiap hari ada perampokan, pembunuhan dan pemerkosaan. Hal-hal ini akan terus terjadi selama masih ada manusia. Dan sehingga kita manusia diselamatkan dari dosa, dan menjadi manusia baru oleh kuasa Allah, tidak ada apa-apa yang akan berubah. Hanya kuasa Allah dapat mengubah kejahatan di dalam manusia.
Saya tidak mengerti mengapa beberapa orang mengatakan hal-hal yang buruk tentang apa yang saya ajarkan dari Firman Allah. Mereka menuduh saya memberitakan keselamatan oleh perbuatan. Allah menjadi saksi saya - kapan saya mengajarkan hal seperti itu? Bagaimana anda dapat menyelamatkan diri anda dari dosa oleh perbuatan? Tidak mungkin anda dapat berbuat seperti itu. Tidak ada orang waras yang akan memberitakan Injil seperti itu. Itu bukan Injil namanya. Hanya kuasa Allah yang dapat menyelamatkan kita. Saya merayu kepada setiap orang untuk mengalami kuasa Tuhan Yesus, Penyelamat kita. Lalu anda akan mengenal kemuliaan Tuhan yang telah kita bicarakan selama ini. Itulah langkah yang pertama. Tanpa langkah yang pertama itu, anda tidak akan pernah mengenal apa-apa lagi tentang Dia.
Kemudian anda akan mengalami sukacita anggur yang baru. Anda bisa tersenyum di dalam badai. Apakah anda takut akan sesuatu? Saya tidak takut akan suatu apapun karena Tuhan saya adalah Tuhan langit dan bumi. Anda akan mengenal sukacita karena pakaian baru itu, pakaian keselamatan yang Allah berikan cuma-cuma kepada anda karena anda tidak mampu membelinya sendiri. Ia memberikan secara cuma-cuma anggur baru itu. Anda tidak dapat menghasilkan anggur itu sendiri. Lalu anda akan mengalami apa itu sukacita.

Sumber: Cahaya Pengharapan Ministries www.cahayapengharapan.org

Perumpaan Tentang Anak Yang Hilang

Lukas 15:11-32 - Disampaikan oleh Pendeta Eric Chang, Montreal
Isi khotbah
Hari ini, kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang pengajaran Yesus di dalam Lukas 15:11-32, yang ketiga dari empat perumpamaan di dalam Lukas 15, Perumpamaan tentang Anak yang Hilang. Dan perumpamaan ini berkisah tentang hubungan bapa-anak (sonship). Apa artinya menjadi anak? Apa masalah yang timbul dalam hubungan ini? Bagaimana cara kita menjadi anak? Saya akan memberi gambaran ringkasnya kepada Anda karena perumpamaan ini agak terlalu panjang untuk dibaca.

Isi Cerita tentang Anak yang Hilang
Di dalam perumpamaan ini, Yesus bercerita tentang seorang ayah yang memiliki dua anak laki-laki. Dan anak yang lebih muda meminta pembagian warisan sebelum ayahnya mati. Ia tidak sabar menunggu sampai ayahnya mati untuk dapat menikmati warisan itu. Lalu ia berkata, "Maukah engkau membagi kekayaanmu sekarang dan memberi saya bagian yang ditetapkan buat saya?" Dari sini kita dapat melihat bagaimana sikap mental dan kepribadian anak tersebut. Memang ada pengaturan di bawah hukum Yahudi bahwa jika si ayah berkenan, ia dapat membagi warisan kepada anaknya sebelum ia sendiri meninggal. Perhatikan bahwa si ayah ini tidak menegur anaknya. Ia tidak berkata, "Aku tidak mengizinkan kamu melakukan hal itu," suatu ucapan yang cenderung akan dilontarkan setiap ayah. Dan hal ini memberi kita satu pengertian tentang karakter Allah. Si ayah itu memberi anaknya bagian warisan anak itu. Tak lama kemudian, anak yang lebih muda ini memisahkan diri, sesudah menerima bagian warisan dari ayahnya. Di dalam ayat 13, perhatikan bahwa ia tidak pergi ke negeri yang dekat dengan tempat tinggal ayahnya. Ia merantau ke negeri yang sangat jauh, berharap bisa pergi dari ayahnya sejauh mungkin, karena - sebagaimana yang Anda ketahui - setiap anak cenderung ingin mandiri. Anak-anak ingin sekali melakukan segala yang mereka mau; mereka tidak ingin selalu berada di bawah pengawasan ayahnya. Jadi pergilah anak ini untuk menikmati kebebasannya.
Namun celaka sekali! Hal-hal yang gampang diraih selalu mudah pula berlalu. Si ayah mungkin harus bekerja keras untuk memperoleh kekayaan itu, namun si anak tidak akan bisa menghargai hal yang bukan hasil perjuangannya sendiri, perkara ini sering terjadi pada anak-anak yang berasal dari keluarga kaya. Lalu ia pergi ke negeri yang sangat jauh dan memboroskan semua kekayaannya. Pepatah mengatakan, "Gampang didapat, gampang pula habisnya". Jadi dalam waktu yang sangat singkat, karena tidak tahu bagaimana mengelola keuangannya, anak ini jatuh bangkrut.
Pada waktu itu ia mulai menyadari, bahwa untuk dapat bertahan hidup ia harus bekerja. Tiba-tiba ia tersadar bahwa hidup di dunia ini perlu bekerja. Sebelumnya, segala sesuatu yang ia nikmati adalah hasil pemberian. Sang ayah selalu mencukupi segala sesuatu buatnya. Mendadak saja sekarang ia harus bekerja. Namun ternyata ia tidak punya keterampilan yang tinggi untuk bekerja. Apa yang dapat ia lakukan? Orang yang tidak tahu bagaimana mengelola kehidupan dan keuangannya sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Akhirnya, satu-satunya tanggungjawab yang dipercayakan kepadanya adalah mengawasi babi. Ia mendapat pekerjaan sebagai pemelihara babi.
Namun ini bukan pekerjaan yang dibayar tinggi. Ia mendapati bahwa upahnya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehingga ia rela memakan makanan babi. Bagaimanapun juga, makanan babi tidak terlalu buruk. Kadang kala, sisa-sisa makanan yang lezat dari restoran yang mahal dikumpulkan dalam tong khusus dan diberikan kepada babi. Jadi cukup sering babi-babi menerima makanan yang lebih bergizi ketimbang manusia. Banyak orang yang hanya makan roti tawar dengan gula, selai dan bahan lain yang tidak cukup bergizi, sementara babi menikmati semua hidangan utama yang juga disajikan kepada orang kaya! Tidak heran jika anak muda ini berminat terhadap makanan babi, yang penampilannya mungkin tidak begitu menarik, namun rasanya pasti cukup lezat, percayalah.
Ketika ia sedang dalam keadaan seperti ini, ia mulai merenungkan tentang rumahnya. Kadang kala dibutuhkan satu pukulan yang keras untuk menyadarkan kita. Di dalam ayat 17 disebutkan, lalu ia menyadari keadaannya, ia mulai tersadar. Akhirnya ia terbangun. Ia mulai menyadari keadaannya.
Perhatikan bahwa saat di rumah, ayahnya memberi dia segala-galanya, namun jauh dari rumah, ia bukan siapa-siapa, dan tak ada yang peduli padanya. Ayat 16 berkata, tidak seorangpun yang memberi kepadanya. Satu-satunya orang yang peduli pada anak ini adalah ayahnya. Namun anak ini sudah mengingkari orang yang sayang padanya. Sekarang, tidak ada yang peduli padanya di tempat ini. Ketika kita mengingkari Allah, kita akan segera mendapati bahwa satu-satu-Nya pribadi yang benar-benar menyayangi kita adalah Allah. Tak seorangpun yang menyayangi kita lebih dari Allah.
Mendapati dirinya berada dalam keadaan seperti itu, ia mulai berpikir, "Pelayan ayahku yang berjumlah banyak itu semuanya bisa makan sampai puas. Sedangkan aku di sini mati kelaparan!" Dan akhirnya ia sampai pada kesimpulan yang memang sudah semestinya ia lakukan, "Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku. Di sanalah satu-satunya tempat yang tersisa bagi aku."
Namun bagaimana ia bisa kembali kepada ayahnya? Ia sudah mengambil bagian warisannya. Ayahnya sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya. Lalu ia memikirkan dan menyusun kata-kata yang akan diucapkannya, "Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa." Ucapan ini memiliki makna yang sangat dalam. Dengan kata lain ia sedang berkata, "Aku telah berdosa kepada Allah dan juga kepadamu, bapa. Apa yang sudah kulakukan bukan sekadar merupakan kesalahan terhadapmu, tetapi juga suatu kesalahan kepada Allah. Sekarang aku memintamu untuk menerima aku, bukan sebagai anakmu karena aku tidak punya lagi hak sebagai anakmu, tapi berilah aku tempat di antara hamba-hambamu. Aku tidak tahu apakah aku boleh diterima sebagai seorang hamba. Tetapi jika engkau menganggap bahwa aku masih boleh menjadi hambamu, aku memohon Anda untuk menerima aku."

Ayah yang Berbelas Kasih
Lalu di dalam ayat 20, kita baca bahwa si ayah selama ini selalu menatapi kejauhan lewat jendela rumah menanti kepulangannya. Si ayah sudah lama menanti, dan ia tidak dikecewakan. Dari kejauhan, ia melihat sesosok tubuh yang berpakaian compang camping, berjalan gontai dan melangkah dengan lesu, dan hatinya segera diliputi oleh sukacita! Ayat 20 berkata, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Kita akan membahas kata 'belas kasihan' ini nanti. Lalu si ayah ini berlari; ia tidak sekadar berjalan. Ia tidak menunggu sampai si anak datang. Ia tidak berkata, "Saya tunggu di sini saja. Ia harus menerima pelajarannya. Ia pantas menerimanya. Ini satu pelajaran buatnya." Tidak ada pembalasan, tidak ada dendam. Si ayah berlari keluar dan memeluk anak bungsu ini. Si anak segera menyampaikan kata-kata yang sudah dirancangnya itu, "Aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa. Aku tidak layak lagi disebut anakmu. Aku tidak pantas menjadi anakmu." Namun sang ayah membalutkan pakaian terbaik buat anaknya. Dan ia memakaikan cincin di jari sang anak, dan memakaikan sepatu di kakinya, yang menunjukkan bahwa si anak ini bahkan tidak punya alas kaki lagi. Ia berjalan dengan telanjang kaki selama ini. Dan perutnya yang lapar dipuaskan dengan daging dari anak lembu yang tambun. Sukacita yang sangat besar!
Si Sulung yang Kesal
Tidak heranlah, anak yang sulung memandang semua hal ini dengan penuh rasa muak dan berpikir, "Nah, anak ini memang pantas menerima nasibnya! Si pemalas ini tidak pernah bisa diandalkan, dasar anak bengal yang manja! Ia bahkan berani melecehkan bapa dengan meminta bagian warisannya sebelum bapa meninggal! Apa ada anak yang lebih hina dari itu? Terus dia pergi jauh menghambur-hamburkan warisannya. Berfoya-foya di negeri orang, dan sekarang kembali sebagai pengemis! Tapi bapa bukannya menempatkan dia di tempat yang seharusnya. Bapa malah bersukacita untuk kepulangannya!" Si anak sulung merasa sangat muak karena tidak seperti bapanya, ia tidak memiliki belas kasihan sama sekali. Ia tidak punya rasa iba terhadap adiknya, yang sudah mendapat pelajaran dari pengalaman buruknya. Sang ayah merasa karena si bungsu ini sudah sadar dan menerima pelajarannya dari pengalaman itu, tidak usahlah kesulitan yang dihadapi itu ditambah-tambahi. Ia sudah jatuh bangkrut, telanjang kaki dan kelaparan. Perlukah anak itu direndahkan lagi untuk memastikan bahwa ia belajar dari kesalahannya? Seberapa rendah perlakuan yang mampu ia tanggung? Sang ayah menganggap bahwa itu semua sudah cukup. Akan tetapi tidak ada yang cukup bagi si anak sulung. Ia merasa bahwa yang terbaik adalah menempatkan si bungsu sejajar dengan para budak. Ia tidak berbelas kasihan.
Dan sebagai rangkuman dari perumpamaan ini, si ayah berkata, "Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali." Ini sebabnya mengapa perumpamaan ini disebut Perumpamaan tentang Anak yang Hilang.

Perumpamaan ini Semestinya disebut: Perumpamaan tentang Dua Anak yang Hilang
Sebenarnya, saya cenderung menyebutnya sebagai Perumpamaan tentang Dua Anak yang Hilang, yang satu tersesat lebih jauh dari yang lainnya. Atau, disebut Perumpamaan Dua Anak yang Hilang, satu telah ditemukan kembali dan yang satunya tidak pernah diselamatkan karena tidak pernah hilang.
Pertama-tama, perlu Anda cermati bahwa keseluruhan isi Alkitab bercerita tentang anak-anak yang hilang. Isi beritanya selalu adalah tentang anak yang hilang. Manusia pertama, Adam, tersesat dan hilang, dan Adam disebut sebagai seorang 'anak Allah' di dalam Lukas 3:38. Yaitu, asal muasalnya, keberadaan dan segala miliknya bersumber dari Allah. Adam adalah anak Allah dan Adam sudah hilang.
Siapa lagi anak yang hilang? Sebagian besar Perjanjian Lama berkisah tentang Israel, dan bangsa Israel disebut sebagai 'anak Allah' di dalam beberapa ayat, sebagai contoh, Hosea 11:1,2 dan 10. Dan Hosea 11:1 (dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu, yaitu, Allah memanggil Israel keluar dari Mesir) yang dikutip dalam Matius 2:15 bercerita tentang Israel sebagai anak yang hilang. Alkitab adalah buku yang berkisah tentang anak-anak yang hilang.
Kata 'anak' memiliki makna yang luas di dalam Alkitab. Para malaikat Allah di dalam Perjanjian Lama juga disebut sebagai 'anak-anak Allah', sebagai contoh di dalam Ayub 1:6, 2:1, 38:7. Mereka adalah anak-anak dalam kedudukan yang berbeda, kedekatan yang berbeda terhadap Allah. Namun, bahkan para malaikat juga bisa terhilang. Perhatikan contoh di dalam surat Yudas ayat 6, di situ disebutkan bahwa  Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar.

Kunci Pemahaman Perumpamaan ini: Menjadi Anak bukan Jaminan Anda Tidak akan Hilang
Ada satu pandangan yang beredar luas di kalangan orang Kristen sekarang ini, bahwa kedudukan sebagai anak merupakan jaminan keselamatan. Apa dasar jaminan keselamatan seorang Kristen? "Aku adalah anak". Dan banyak sekali orang yang berkata, "Sekali menjadi anak akan selamanya menjadi anak." Benar, 'sekali menjadi anak memang akan selamanya menjadi anak," tetapi apa artinya itu? Sejauh yang berhubungan dengan Kitab Suci, tidak ada makna jaminan keselamatan sama sekali. Seperti yang sudah kita lihat, Alkitab selalu bercerita tentang anak yang hilang. Menjadi seorang anak bukanlah jaminan bahwa Anda tidak akan terhilang, dan inilah poin utama dari Perumpamaan tentang Anak yang Hilang itu.
Jika Anda seorang Kristen, jangan mendasarkan keamanan rohani Anda pada anggapan bahwa Anda adalah anak dan dengan demikian Anda pasti akan baik-baik saja, jadi Anda boleh berbuat dosa sebanyak yang Anda mau. Anda boleh meninggalkan Allah dan masih diselamatkan juga pada akhirnya. Itulah pengajaran yang banyak diberikan oleh sebagian besar Gereja sekarang. Namun saya beritahu, ini adalah ajaran sesat, berdasarkan Firman Allah; ini bukanlah ajaran yang alkitabiah. Jangan membangun kehidupan rohani Anda di atas dasar yang salah. Mungkin terasa nyaman, menentramkan, namun tetap saja salah.
Pernah ada orang yang berkata kepada saya, "Sekalipun orang-orang Kristen mungkin berpaling dari Allah, mungkin berbuat dosa, melakukan berbagai pelanggaran, mereka tetap akan diselamatkan."
Saya bertanya, "Adakah dasar dari Firman Allah untuk hal itu?"
Jawabnya, "Sangat mudah! Kita adalah anak-anak Allah, dan jika sudah menjadi anak, maka selamanya akan tetap sebagai anak."
Menyedihkan sekali! Membangun anggapan tentang jaminan keselamatan seperti itu sangatlah membinasakan! Belum pernahkah Anda membaca Alkitab? Alkitab berbicara tentang anak-anak yang hilang. Adam terhilang. Dia adalah anak. Bangsa Israel terhilang. Mereka juga adalah anak-anak. Para malaikat adalah anak-anak Allah tetapi mereka juga ada yang hilang. Apakah Anda akan mendasarkan rasa aman Anda hanya dengan kata-kata, "Aku adalah anak"?
Saya tidak seketikapun menyangkal betapa luar biasanya menjadi seorang anak Allah! Dan kita adalah anak-anak Allah dalam beberapa pengertian. Sebagai contoh, makna dari ungkapan 'anak Allah' yang memiliki jangkauan yang luas, di dalam Kisah 17:28 di mana Paulus mengutip salah satu pujangga Yunani yang mengatakan bahwa kita ini dari keturunan Allah juga. Di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada. Ada cakupan makna yang luas di mana Allah menjadi Bapa dan kita, umat manusia, adalah makhluk dengan keberadaan yang berasal dari Dia. Sama seperti keberadaan kita yang berasal dari orang tua kita, di balik itu, Allahlah yang menjadi sumber keberadaan kita sesungguhnya. Allah adalah bapa di dalam pengertian cakupan yang sangat luas itu. Dan cara pandang ini juga diterima oleh Alkitab. Akan tetapi ada pengertian yang lebih dipersempit lagi. Sama seperti di dalam setiap keluarga, beberapa anak memiliki kedekatan yang lebih akrab dengan ayah mereka ketimbang anak yang lainnya. Hal ini terjadi juga di dalam kehidupan rohani, beberapa anak memiliki hubungan lebih akrab dengan Allah, dengan Bapa, ketimbang anak yang lainnya.
Di samping itu, ada lagi pengertian yang lebih khusus sifatnya yaitu kita menjadi anak karena Allah mengangkat kita sebagai anak-Nya. Paulus berkata bahwa kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah di Roma 8:15. Dengan demikian, kita menjadi anak karena pengangkatan; dan juga menjadi anak karena kelahiran baru.
Yesus juga adalah Anak, akan tetapi tentulah kita bukanlah anak dengan pengertian yang sama dengan Yesus sebagai Anak Allah. Dan Anda akan melihat betapa keberadaan-Nya sebagai Anak sungguh berbeda dengan keberadaan kita sebagai anak. Keberadaan Dia sebagai Anak lebih bersifat esensial. Yesus memiliki natur yang sama dengan Bapa. Sedangkan kita tidak dari natur yang sama dengan Allah. Kita adalah manusia, tetapi Yesus adalah keduanya, Ilahi dan juga manusia. Dari sini kita dapat melihat bahwa Alkitab memakai kata 'anak' dengan pengertian yang sangat luas.
Tetapi cukup untuk dikatakan di titik ini, bahwa tidak kira dalam pengertian apa pun, Anda tidak dapat berkata, "Aku aman karena aku adalah anak." Saya sedih melihat begitu banyak orang Kristen yang diajari bahwa kualitas kehidupan yang mereka jalani tidaklah penting. Tidak masalah apakah mereka kudus atau tidak. Tidak masalah apakah mereka berbuat dosa atau tidak.
Kenyataannya, pernah saya menanyakan salah satu dari orang Kristen itu, "Katakan pada saya, berdasarkan doktrin yang Anda yakini - tidak tahu dari mana asalnya, jika seorang Kristen melakukan pembunuhan dan tidak bertobat, apakah ia tetap akan diselamatkan? Ya atau tidak?"
Dan tahukah Anda apa jawabannya? Dia berkata, "Ya." Berdasarkan teori 'sekali selamat tetap selamat', Anda tentu saja akan tetap diselamatkan biarpun sudah melakukan pembunuhan. Tidak ada hal yang dapat Anda lakukan untuk tidak diselamatkan.
Saya berkata, "Jadi jika seorang yang bukan Kristen melakukan, katakanlah, sebuah dosa kecil seperti mencuri, apakah ia harus masuk ke neraka sementara orang Kristen yang membunuh dan tidak bertobat akan tetap diselamatkan? Doktrin macam apa yang Anda ajarkan ini? Dari bagian Alkitab yang mana Anda menemukan ajaran ini?" Kesalahan itu datang dari penalaran yang salah bahwa 'sekali anak tetap anak.' Mereka lupa bahwa Anda bisa saja menjadi anak namun tetap hilang. Dan hal ini adalah jauh lebih tragis ketimbang tidak pernah menjadi anak sama sekali.
Perumpamaan ini Berbicara tentang Anak yang Hilang dan Diselamatkan karena Bertobat
Saya harap Anda mau memikirkan hal ini dengan sangat hati-hati. Saya ulangi sekali lagi: Alkitab adalah sebuah Kitab tentang anak-anak yang hilang. Ini adalah kisah yang tragis. Dan apakah Anda pikir anak yang bungsu itu akan diselamatkan jika ia tidak bertobat? Perumpamaan ini bercerita tentang anak yang hilang dan diselamatkan bukan karena ia adalah seorang anak, tetapi karena ia bertobat. Keberadaan sebagai anak tidak ada artiya buat dia, jika ia tidak bertobat. Jika ia bisa diselamatkan tanpa harus bertobat, maka kita tidak membutuhkan perumpamaan ini. Poin pokok dalam perumpamaan ini adalah bahwa ia diselamatkan karena ia bertobat.
Lalu bagaimana dengan si sulung? Ia juga disebut anak. Tahukah Anda siapa yang diwakili oleh si sulung ini? Jika Anda memperhatikan dengan teliti perumpamaan-perumpamaan dari Yesus, beberapa dari antaranya bercerita tentang dua anak. Anak yang sulung selalu dihubungkan dengan para ahli kitab dan orang-orang Farisi sementara yang bungsu dikaitkan dengan orang-orang berdosa dan pemungut cukai. Ini adalah dua kelompok utama umat di Israel: para ahli kitab dan orang-orang Farisi di satu pihak, dan orang-orang berdosa serta pemungut cukai di pihak lannya. Mereka itulah dua anak ini. Itu sebabnya Yesus berkata kepada orang-orang Farisi dan ahli kitab, "Orang-orang berdosa dan pemungut cukai akan masuk ke dalam kerajaan Allah tanpa kalian, karena mereka akan bertobat. Tetapi kalian akan tertinggal di luar. Saat itulah kalian akan meratap dan menggertakkan gigi." Tidak ada orang yang diselamatkan tanpa pertobatan. Tidak ada ajaran alkitabiah yang mengatakan bahwa setiap orang akan diselamatkan tanpa pertobatan.

Jangan Terlalu Yakin bahwa Anda adalah Anak!
Itu sebabnya mengapa Yohanes Pembaptis, nabi besar Allah, berkata, "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!" (Mat.3:8-9). Namun orang-orang Yahudi, seperti juga orang-orang Kristen, mendasarkan keyakinan mereka pada keberadaan sebagai anak: "Kami adalah umat yang terpilih. Kami telah dipilih oleh Allah." Benar, itu semua karena anugerah, akan tetapi anugerah juga bisa menyebabkan kita menjadi sombong. Lagi pula, oleh kasih karunia, Ia telah memilih saya, dan bukan Anda. Ia telah memilih kami, bukan kalian. Ini adalah awal suatu kesombongan. Saya mau tunjukkan kepada anda bahwa dengan sikap seperti itu berarti Anda masih belum memahami pengajaran yang alkitabiah tentang hal menjadi anak. Dan itu sebabnya mengapa di dalam Yohanes 8:41 orang-orang Yahudi berkata kepada Tuhan, "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah," dengan kata lain, "Kami para anak." Benar sekali, mereka memang para anak, akan tetapi Tuhan Yesus berkata di ayat 44, "Iblislah yang menjadi bapamu." Apakah anak-anak Abraham berasal dari iblis? Bukan, anak-anak Abraham adalah anak-anak perjanjian! Tuhan Yesus berkata, "Dari buahmulah terlihat bahwa kalian tidak lain adalah anak-anak iblis." Ini bukan suatu pernyataan yang bermaksud menghina. Ini adalah diagnosa tentang keadaan rohani mereka. Tidak, kita tidak boleh mendasarkan keyakinan kita pada fakta bahwa kita telah dipilih untuk menjadi anak. Mari kita ingat poin ini baik-baik.
Sangatlah penting bagi kita untuk tidak disesatkan oleh pengajaran palsu di zaman sekarang ini. Dapat saya katakan bahwa mayoritas pengajaran di Gereja sekarang ini mencoba untuk mengatakan kepada Anda bahwa yang perlu Anda lakukan adalah menjadi anak. Saudara-saudaraku, menjadi anak adalah hal yang penting. Itu adalah langkah pertama. Namun jangan membayangkan bahwa kedudukan sebagai anak adalah dasar dari jaminan keselamatan. Tidak ada dasar alkitabiah bagi hal itu karena seiring dengan penghargaan itu datang pula suatu tanggungjawab. Semakin banyak Anda menerima, semakin banyak Allah menuntut dari Anda. Ia mengharapkan sesuatu yang lebih dari Anda karena Anda adalah seorang anak. Dan itulah yang Ia katakan kaum Israel, "Karena engkaulah, dan hanya engkaulah, umat yang Kupilih di atas bumi ini, maka Aku akan menghakimi engkau" (Ul.7:6-7; Yeh.18:30). Itulah dasar dari penghakiman-Nya.
Ingatlah selalu bahwa perumpamaan ini tidak berkisah tentang orang tidak percaya yang tersesat, melainkan tentang anak yang hilang. Camkanlah hal ini baik-baik. Dan di dalam perumpamaan ini, anak-anak tersebut bahkan merujuk kepada kelompok-kelompok yang ada dalam kalangan umat Yahudi: di satu pihak, orang-orang Farisi beserta para ahli kitab, dan di pihak lain adalah para pemungut cukai dan orang-orang berdosa.

Allah adalah Bapa kepada Semua
Sekarang, mari kita perhatikan aspek lain di dalam perumpamaan ini: Kebapaan Allah. Allah disebut sebagai Bapa. Kita sudah memahami bahwa kata 'anak' dipakai dalam pengertian yang sangat luas, menunjukkan bahwa sekalipun orang yang tidak percaya tetap memiliki hubungan dengan Allah karena Allah yang menciptakan mereka; keberadaan mereka bersumber pada Allah. Dalam pengertian seperti itu, dia adalah keturunan Allah juga seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam Kisah 17:28. Berdasarkan pengertian yang sangat luas itu maka Allah juga merupakan Bapa bagi orang-orang yang tidak percaya karena keberadaan mereka bersumber dari Allah. Berarti setiap orang harus bertanggung jawab kepada Allah, karena Allah adalah Bapa kepada setiap orang. Tapi bagi orang-orang Kristen, Ia adalah Bapa di dalam pengertian hubungan yang lebih dekat, dan juga Bapa bagi Yesus di dalam pengertian hubungan yang malah lebih dekat lagi.
Ingatlah selalu bahwa "Kita tidak berada di tingkatan yang sama dengan Yesus." Dia adalah Anak di dalam pengertian yang berbeda dengan keberadaan kita sebagai anak-anak. Jika Anda tidak memperhatikan hal ini, Anda akan jatuh dalam kesesatan lagi. Sebagai contoh, para Saksi Yehova menjadi sesat karena mereka mengira bahwa keberadaan Yesus sebagai Anak itu sama dengan kita, tanpa ada perbedaan esensi sama sekali. Pemahaman ini sama sekali salah. Yesus adalah Anak di dalam pengertian yang sepenuhnya berbeda. Ia adalah Anak karena Ia dari hakekat yang sama dengan Bapa.
Seperti yang dengan teliti disampaikan oleh Paulus, kita adalah anak-anak berdasarkan adopsi. Kita memiliki "Roh yang menjadikan kita anak." Tentu saja, kita tahu bahwa Yohanes berbicara tentang 'kelahiran kembali', dan ungkapan itu berbicara tentang keberadaan sebagai anak secara figuratif. Tidak boleh dipahami secara harfiah, namun secara rohaniah. Artinya, kita menjadi anak-anak karena kita sudah dilahirkan kembali oleh kuasa Allah. Tetapi Paulus lebih suka menggunakan istilah 'ciptaan baru' seperti yang dia tulis di dalam 2 Korintus 5:17, kita menjadi ciptaan baru di dalam Kristus.
Dengan melihat bahwa Allah itu Bapa kepada kita semua, dalam pengertian yang lebih mendalam bagi kita orang-orang Kristen ketimbang mereka yang non-Kristen, lalu bagaimana sikap kita terhadapAllah? Pengajaran dari Yesus sangat menekankan hal ini kepada kita: tentang Kebapaan Allah. Ini adalah poin yang sangat penting di dalam pengajaran Yesus. Dan Yesus menunjukkan kepada kita di dalam ajaran-Nya bahwa Allah juga peduli pada orang-orang non-Kristen. Sebagai contoh, Ia berkata di dalam Khotbah di atas Bukit bahwa Allah menurunkan hujan kepada orang Kristen dan yang non-Kristen. Ia tidak membatasi hujan-Nya hanya kepada orang Kristen saja. Ia memberikan sinar matahari kepada orang Kristen dan yang non-Kristen. Semua itu karena Ia adalah Bapa di dalam pengertian yang sangat luas, mencukupkan kebutuhan setiap umat-Nya, bahkan termasuk burung-burung di udara serta bunga-bunga di padang. Bagaimana kita memperlakukan Allah sebagai Bapa?
Kita sebagai orang Kristen memiliki keakraban yang lebih dekat kepada Allah karena kita mengenal-Nya bukan hanya sebagai Pencipta tapi juga sebagai Penebus. Kita terikat kepada-Nya sebagai anak dalam dua cara, sebagai Pencipta dan Penebus. Kita boleh menyebut-Nya Abba Bapa, bukan sekadar 'Bapa', tetapi Abba Bapa. Inilah unsur yang menyolok dari ajaran Yesus. Di dalam bahasa Mandarin, Abba itu sama dengan Baba. Di dalam logat Shanghai, penyebutannya sangat mirip dengan bahasa Aram, yaitu Ah-ba, suatu panggilan yang sangat akrab. Kadang-kadang kita memakai kata Dia-dia [Papa]. Ah-ba sangat serupa dengan kata Ibrani, Abba. Mungkin istilah milik orang Shanghai ini bersumber dari bahasa Ibrani! Saya tidak tahu, mungkin memang ada hubungan antara keduanya. Jadi kita mendapati sesuatu yang sangat indah di sini.
Orang-orang non-Kristen tidak dapat memanggil Allah dengan Abba Bapa. Ia tidak dapat memanggil dengan cara seperti itu, karena Anda baru bisa memakai istilah itu jika Roh Allah ada di dalam Anda. Kata Abba mengungkapkan suatu hubungan yang sangat akrab yang tak pernah dapat dinikmati oleh orang non-Kristen. Mereka tidak memiliki bentuk hubungan yang hidup dengan Allah. Hubungan yang mereka miliki bersifat formal dalam pengertian luas Allah sebagai Bapa mereka, sebagai Pencipta mereka. Akan tetapi mereka tidak berada di dalam hubungan yang akrab dengan Allah dalam bentuk seperti hubungan seorang anak dengan ayahnya, di mana anak itu boleh memanggil ayahnya dengan sebutan "Bapa, Papa, Papi dan sebagainya." Anda pasti tidak akan memanggil orang lain dengan sebutan "Papi". Orang itu akan melotot ke arah Anda dan bertanya, "Siapa kamu? Kenapa kamu panggil saya papi? Apa hak kamu memanggil saya seperti itu?" Tapi jika Anda datang kepada ayah Anda dan memanggilnya, "Papa," ia akan senang dengan panggilan itu. Tidak ada masalah buatnya. Karena hubungan yang akrab itu memang Anda miliki.
Dosa terbesar yang dapat dituduhkan atas seseorang dalam budaya China mungkin adalah bu xiao, yaitu tidak hormat kepada orang tuanya. Di kalangan orang China, kata bu xiao mungkin adalah makian terburuk yang dapat Anda lontarkan terhadap seseorang. Tidak begitu penting apakah ia seorang perampok bank selama ia masih xiao, yaitu masih menghormati dan mencintai orang tuanya. Besar kemungkinan orang itu akan mendapat pengampunan jika ia merampok bank karena ayahnya sakit keras dan ia tidak mampu membayar ongkos pengobatannya. Saya pikir seorang hakim di China akan tergerak untuk berbelas kasihan atas perampok bank ini. Dan saya pikir para hakim di China cenderung untuk berbelas kasihan kepada orang yang berbuat sesuatu karena alasan xiao. Jika Anda menyatakan bahwa seseorang itu bu xiao, ia akan disingkirkan oleh masyarakat China. Bahkan kuburanpun tidak akan disediakan baginya! Ia dipandang tidak layak untuk tetap hidup! Riwayatnya sudah tamat! Kalau kita sudah mengerti dan terbiasa dengan rasa hutang budi kepada orang tua, mengapa kita masih belum juga mengerti bahwa hutang budi kita kepada Allah jauh melampaui hutang budi kita kepada orang tua? Allah adalah Bapa di dalam pengertian yang jauh lebih mendasar ketimbang orang tua kita.
Pikirkanlah tentang buah-buahan yang Anda makan. Sangat luar biasa nikmatnya! Perhatikan sebuah jeruk. Buah ini dikemas dengan sangat sempurna. Kemasan kulitnya dilapisi lilin pelindung, mempertahankan kesegarannya sampai waktu yang cukup lama. Jika Anda sudah mengupasnya, di bagian dalam Anda akan menemukan daging buah yang dibagi dan dikemas sesuai dengan ukuran mulut. Anda tidak usah menjejalkan seluruh daging buah ke dalam mulut Anda sekaligus. Setiap bagiannya dirancang sempurna. Dan lagi, tidak ada juru masak di dunia ini yang dapat meniru aromanya. Jika seorang ahli kimia mencoba untuk meniru rasa buah jeruk, hasilnya akan jauh berbeda dengan hasil kreasi Bapa saya di dapur kreatif-Nya. Anda dapat segera merasakan adanya bahan kimia yang asing. Sekalipun ia memiliki rasa yang sangat mirip dengan jeruk, Anda tetap tahu bahwa itu bukan rasa yang alami. Rasa yang alami sangatlah sempurna. Tidak terlalu manis, sampai-sampai mulut Anda terasa lengket. Kadang-kadang, ketika Anda sedang makan manisan, Anda kesulitan dalam menggerakkan mulut Anda; gigi Anda terasa lengket. Terlalu banyak campuran gulanya. Terlalu lengket. Tapi tidak demikian dengan jeruk. Rasa, aroma dan rancangannya sempurna dan seimbang.
Ada bermacam-macam buah. Sebagai contoh, buah apel tidak dirancang seperti buah jeruk. Ketika Anda menggigitnya, daging buah itu sangat memanfaatkan gigi anda, ia mengosok dan membersihkan gigi Anda, sekaligus juga memijat gusi Anda. Segalanya sudah dirancang. Dan rasa yang diberikan juga bermacam-macam. Jika Allah hanya membuat satu macam buah, dan kita semua hanya bisa melihat buah jeruk, Anda akan bertanya, "Makanan apa lagi yang tersedia selain ini?" Di dalam dunia ini, Allah menyediakan berbagai macam buah-buahan. Setiap jenis memiliki aroma, kemanisan dan kenikmatan yang berbeda.
Pernahkah Anda menikmati buah persik? Wah! Rasanya betul-betul fantastis! Sering kali, ketika saya makan buah persik, saya bertanya-tanya, "Bagaimana buah ini bisa terbentuk?" Kata yang cocok untuk menggambarkan buah ini adalah 'fantastik'! Dan lagi pula, anggaplah semua buah memiliki rasa yang berbeda tetapi dengan bentuk dan tekstur yang sama, hal ini pasti akan membosankan juga. Akan tetapi setiap buah memiliki tekstur yang berbeda - ada yang renyah, ada pula yang lembut. Benar-benar luar biasa!
Ketika Anda menikmati buah-buahan itu, pernahkah Anda memikirkan asal muasalnya? Atau Anda tidak peduli akan hal itu, dan cuma menjejalkannya ke dalam mulut. Ketika saya menikmati buah-buahan, saya memikirkan betapa indahnya Abba Bapa menciptakan buah itu. Anda tidak akan dapat memahami apa itu sukacita kehidupan jika Anda tidak mengenal Allah. Sangat indah menjadi seorang Kristen karena kehidupannya sangat bermakna. Saya rasa menjadi orang non-Kristen berarti hanya menjalani sebagian sisi saja dari kehidupan ini. Anda tidak akan dapat menikmati hidup ini. Anda tidak akan dapat menikmati keindahan, rancangan, tujuan dan struktur dari setiap hal.
Perhatikanlah sekuntum bunga. Manfaat apa yang dimiliki oleh sekuntum bunga? Kami orang Tionghoa sangat mementingkan manfaat suatu benda. Kami selalu menilai apa guna suatu benda. Jika tidak ada gunanya, lupakan saja! Jika Anda memberi saya seikat bunga, mungkin saya akan memandangi bunga itu dengan rasa kesal. Apa yang bisa saya lakukan dengan seikat bunga? Tidak bisa dimakan, tak bisa dikenakan, lalu apa yang bisa dilakukan dengan bunga? Pemborosan saja! Tapi coba amatilah bunga itu dan pikirkan warna, jenis, bentuk dan wanginya. Apakah Anda hanya memikirkan manfaat praktisnya? Itu semua adalah hal-hal yang memberi sukacita, keindahan dan memperluas pandangan kita karena mereka memperlihatkan kecantikan yang belum kita pahami dengan utuh. Segala sesuatu memiliki tujuan dan rancangan. Apa manfaat praktis dari bunga bagi setiap orang? Apa yang bisa dilakukannya? Tetapi Allah di dalam tujuan-Nya telah menetapkan rencana bagi setiap dari hal-hal ini.
Atau lihatlah pada berbagai macam jenis pohon. Sejak kedatangan saya di Kanada, saya baru mulai menghargai keberadaan pohon-pohon. Sungguh luar biasa! Selama ini saya menjalani hidup saya tanpa pernah peduli pada pepohonan. Pernahkah Anda mengamati pohon-pohon? Bagi saya dulu, setiap pohon sama saja. Hanya sebuah dundukan berwarna hijau. Sampai akhirnya saya mulai mengamati setiap pohon dengan lebih dekat, dan saya membatin, "Wah! Ada begitu banyak jenis pohon! Setiap daunnya memiliki bentuk dan rancangan yang berbeda. Beberapa jenis daun berubah warna di musim gugur. Setiap pohon memiliki fungsi yang berbeda. Ada yang kayunya keras, ada pula yang lunak. Jika yang tersedia hanya kayu lunak, Anda akan kesulitan membangun rumah. Jika hanya ada kayu keras, muncul pula kesulitan yang lain. Kayu-kayu itu bahkan memiliki corak dan warna yang berbeda-beda. Sungguh luar biasa!"
Pepatah Tionghoa mengatakan, Yin shui si yuan - saat Anda meminum air, renungkanlah asal muasal air itu. Saya pikir menjadi orang Kristen itu sangat indah. Benar-benar merupakan kehidupan yang menggairahkan khususnya jika Anda jalankan apa yang diajarkan kepada kami, orang-orang Tionghoa - yaitu merenungkan asal-usul segala sesuatu. Dengan begitulah saya mendapatkan hati yang penuh syukur dan sembah, yaitu xiao dalam pengertian bakti kepada Allah. Dan saya selalu berterima kasih kepada Allah, "JalanMu benar-benar sangat indah! Engkau adalah Bapa yang luar biasa bagiku. Sungguh besar kemurahan, kasih karunia dan kebaikanMu kepadaku. Engkau sungguh ajaib!" Semakin Anda memahami ciptaan Allah, semakin ajaib Allah bagi Anda.
Ada seorang teman saya yang menekuni bidang fisika, dan ia mengatakan bahwa semakin dalam ia mempelajari bidang itu, semakin kagum hatinya melihat keajaiaban ciptaan Allah. Hatinya dipenuhi oleh semangat pengabdian. Ada lagi seorang teman saya yang menekuini bidang kedokteran. Dan suatu hari, ia terlihat sangat gembira.
Lalu saya bertanya, "Apa yang membuatmu gembira hari ini?" 
"Sungguh ajaib! Rancangan Allah sungguh ajaib!"
Saya tanyakan, "Apa yang kamu bicarakan?"
Jawabnya, "Tulang sendi lutut."
Tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya bahwa tulang sendi lutut adalah hal yang ajaib. Lutut yang saya miliki, bagi saya, tampaknya bukan yang tercantik di antara yang lainnya. Hanya terlihat sebagai potongan tulang yang menonjol ke depan.
Namun teman ini berkata, "Rancangan tulang sendi lutut sungguh sangat ajaib! Benar-benar fantastik!" Kemudian ia menjelaskan segala sesuatu tentang tulang sendi lutut kepada saya.
Sebelumnya, saya tidak pernah melihat ada orang yang melonjak kegirangan karena urusan lutut. Akan tetapi, semakin Anda dapat memahami ciptaan Allah, semakin Anda memahami tentang rancangan dan manfaatnya, akan semakin mempesona hal itu bagi Anda! Masalah utama kita adalah ketidaktahuan. Itulah persoalan kita. Kalau saja kita lebih memahami keajaiban rancangan otak kita, struktur organ-organ tubuh dan tujuannya, bagaimana semuanya dirancang, maka kita pasti akan memuji Allah. Kita akan berkata, "Ya Allah, Engkau sungguh ajaib!" Kita akan memiliki xiao. Kita merasa banyak berhutang budi kepada orang tua kita. Mereka sungguh sangat baik kepada kita. Mereka sangat menyayangi kita, dan penghargaan serta penghormatan yang tinggi layak mereka dapatkan dari kita. Namun jauh lebih besar lagi hutang budi kita kepada Allah, yaitu Bapa dari segala bapa, Orang tua dari segala orang tua! Sebagaimana yang dikatakan oleh Alkitab, Bapa dari semua (Ef.4:6).

Allah adalah Bapa yang Sangat Berbelas Kasihan di dalam Perumpamaan ini
Sekarang kita sampai kepada poin berikutnya di dalam perumpamaan ini: Allah tampil sebagai Bapa dengan belas kasihan yang sangat besar. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kita perlu mengoreksi pemahaman kita tentang Allah. Kita selalu saja memandang Allah sebagai Shang Di. Dalam bahasa China, Shang Di berarti, "Kaisar di atas." Shang berarti atas, dan Di berarti Kaisar. Dan kami memandang Allah seperti Shang Di yang dihormati, disegani dan ditakuti, Kaisar di atas segala kaisar.
Saya pernah berkunjung ke Tien Tan (Kelenteng dari Surga) pada waktu masih sekolah, ketika saya di Beijing, dan saya sangat terkesan dengan Tien Tan. Sebuah bangunan yang sangat indah. Di satu bagian gedung itu, di dalamnya, tidak tertulis kata-kata lain kecuali Shang Di - Tuhan, Kaisar Surga. Kami orang China cenderung membayangkan kata Di, kaisar, sebagai satu Pribadi yang menakutkan, penuh dengan kuasa, dan biasanya, kami tidak mengaitkan ide belas kasihan dengan seorang kaisar.
Tetapi di dalam Alkitab, kita harus belajar untuk berpikir dengan cara yang berbeda. Allah sangatlah berbelas kasihan. Biasanya, sekali setahun, Kaisar China mengunjungi Tien Tan dan mempersembahkan kurban kepada Allah. Sungguh hal yang luar biasa, bahkan sebelum datangnya zaman Alkitab, konsep tentang satu Allah sudah ada. Di dalam beberapa tulisan klasik, Shang Di juga disebut sebagai Tien, sama dengan yang tertulis di dalam Alkitab berbahasa China. Di dalam Matius, kita melihat kata 'surga atau langit (heaven)' yang merupakan sebutan bagi Allah di kalangan orang Yahudi. Di dalam bahasa China, julukan penghormatan yang diberikan juga sama. Tien dipakai untuk menyebut Allah. Kata Tien ini tidak sekadar berarti langit. Dan jika ditelusuri lebih jauh ke belakang, di dalam tulisan-tulisan klasik China, kata tien selalu mengacu kepada Allah. Sebagai contoh, pepatah Mou shi zai ren, cheng shi zai tien berarti merencanakan itu di pihak manusia, melaksananya ada di pihak Allah. Pelaksanaan tidak dengan mengandalkan manusia melainkan Allah. Jadi kita memiliki konsep tentang Allah yang sangat jelas di China. Dan kaisar mempersembahkan kurban kepada Allah karena ia memahami bahwa manusia pada dasarnya berhutang segala-galanya kepada Allah, jadi manusia berhutang ketaatan kepada Allah. Sayangnya, konsep tentang Allah bukan memandang-Nya sebagai Bapa tetapi lebih sebagai Kaisar, jadi gambaran yang mereka bayangkan adalah Allah sebagai satu Pribadi yang sangat menakutkan.
Di dalam perumpamaan ini, kita menemukan kata 'belas kasihan' (Luk.15:20) ini, dan saya ingin membawa pengamatan Anda pada keindahan ajaran Biblika tentang belas kasihan. Kata dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan sebagai belas kasihan adalah, splagnizomai. Dan splagnizomai berasal dari kata Yunani splagnon yang berarti bagian dalam dari tubuh, seperti jantung, hati atau paru-paru. Itu semua disebut splagnon, jeroan, bagian dalam dari tubuh seseorang. Dan metafora dari kata itu bermakna perasaan terdalam dari Anda. Jadi kata ini bermakna belas kasihan, dalam pengertian Allah menyayangi kita dari lubuk hati-Nya yang terdalam. Suatu ungkapan perasaan yang sangat dalam. Kata ini hanya dipakai jika Anda bermaksud untuk mengungkapkan perasaan yang terdalam, bukan sekadar rasa sayang saja. Dan kata ini dipakai di dalam perumpaman kali ini dalam menggambarkan belas kasihan sang ayah, rasa sayang dan simpati yang sangat mendalam, perasaan yang dipendamnya terhadap anak yang hilang namun sudah bertobat dan kembali.

Yesus Memiliki Belas Kasihan dan Mengajarkannya di dalam Perjanjian baru
Menariknya, kata 'belas kasihan' dipakai dalam Perjanjian Baru hanya dalam referensi kepada Yesus. Di dalam Perjanjian Baru kita mendapatkan enam referansi:
Yang pertama dipakai dalam Matius 9:36. Tuhan Yesus kala itu sedang memandangi kerumunan orang-orang yang mengikuti Dia: tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Saat Yesus menatap kita sekarang ini, Anda boleh yakin bahwa Tuhan Yesus menatap ke arah kita dengan keprihatinan yang mendalam, belas kasihan yang mendalam, atas keadaan kita yang seperti domba tanpa gembala.
Yang kedua terdapat di dalam Matius 14:14. Kata ini dipakai dalam kejadian pemberian makan kepada 5.000 orang di padang belantara: Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Ketika Ia melihat mereka dalam keadaan kelaparan dan kekurangan di tengah tempat yang sepi, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan kepada mereka. Alasan mengapa Ia memberi makan orang banyak itu bukanlah karena Ia ingin membuat mukjizat. Ini adalah pandangan keliru yang sering terjadi. Alkitab memberi tahu kita bahwa Ia memberi makan 5.000 orang karena didorong oleh belas kasihan kepada mereka. Ia merasa sedih melihat mereka kelaparan.
Referensi yang ketiga ada di dalam Matius 15:32, dan ini adalah peristiwa pemberian makan kepada 4.000 orang: Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." Sekali lagi, Yesus memberi makan 4.000 orang karena hati-Nya tergerak oleh belas kasihan pada mereka yang kelaparan.
Yang keempat ada di dalam Markus 1:41. Yesus berbelas kasihan kepada seorang penderita kusta, jenis orang yang selalu diabaikan oleh masyarakat. Penderita kusta terlihat menjijikkan karena seluruh tubuh dan wajah mereka dipenuhi oleh luka. Mereka tersisih dari masyarakat dan tak ada yang mau mendekatinya karena orang takut tertular kusta itu. Dan Yesus memandang ke arah penderita kusta itu dan berbelas kasihan kepadanya: Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir."
Yang kelima ada di dalam Matius 20:34 ketika Yesus berbelas kasihan, perasaan mendalam dari batin-Nya terhadap atas dua orang buta. Ia menatap dengan penuh belas kasih kepada kedua orang buta itu, yang terpaksa mengemis karena di dalam masyarakat mereka itu, orang buta tidak dapat memperoleh pekerjaan. Mereka harus seumur hidup menjadi pengemis. Dan Ia berbelas kasihan kepada mereka: Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.
Yang keenam terdapat di dalam Lukas 7:13. Yesus berbelas kasihan kepada seorang janda di Nain yang sedang meratapi kematian anak tunggalnya, dan janda itu menangis sambil mengikuti orang-orang yang menggotong jenazah anaknya ke kuburan: Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" Ia merasa sangat kasihan kepada janda itu. Dihentikan-Nya arak-arakan itu dan dibangkitkan-Nya anak si janda itu. Sekali lagi, Ia membuat mukjizat bukan untuk membuktikan bahwa Ia mampu membangkitkan orang mati. Yesus tak pernah berusaha untuk pamer kuasa. Ia tidak pernah berusaha untuk membuktikan sesuatu. Ia melakukan semua hal itu atas dorongan belas kasihan. Ia membangkitkan anak si janda karena dorongan belas kasihan. Alasan-Nya melakukan mukjizat itu adalah rasa belas kasihan kepada si janda yang sedang bersedih. Camkanlah hal ini.
Sangat mengagumkan bahwa kata 'belas kasihan' di dalam Perjanjian Baru ini hanya dipakai dengan merujuk kepada Yesus. Kata ini bahkan tidak muncul di dalam surat-surat rasul Paulus. Selain itu, kata 'belas kasihan' ini juga dipakai langsung di dalam ajaran Yesus, dalam tiga referensi, tetapi di satu referensi, kata ini muncul dua kali, jadi total keseluruhannya bisa dikatakan ada empat referensi.
Yang pertama muncul dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik, di dalam Lukas 10:33: Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
Referensi yang kedua ada di dalam perumpamaan ini, yaitu perumpamaan tentang anak yang hilang di dalam Lukas 15:20, di mana sang ayah tergerak oleh belas kasihan melihat keadaan anaknya yang menyedihkan, kurus, kelelahan, berpakaian lusuh dan telanjang kaki. Itu adalah anaknya, dan sang ayah ini berbelas kasihan kepada anaknya: Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
Yang ketiga dan sekaligus keempat tampak di dalam Matius 18:33, tentang seorang hamba yang mendapat belas kasihan dari tuannya ketika ia tidak sanggup melunasi hutangnya, dan hutang itu dihapuskan. Sayang sekali, hamba itu tidak berbelas kasihan kepada hamba yang lain: "Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?"
Dan seluruh gambaran yang indah tentang kebapaan Allah, ungkapan belas kasihan-Nya yang terdalam, dirumuskan dengan sangat indah di dalam kata-kata yang terdapat dalam Lukas 6:36, "Hendaklah kamu murah hati (merciful, penuh belas kasihan), sama seperti Bapamu adalah murah hati (merciful, penuh belas kasihan)." Yesus mengajarkan bahwa Allah, Bapa kita penuh dengan belas kasihan. Dari sini, kita dapat melihat betapa indahnya gambaran tentang keberadaan manusia sebagai anak dan Kebapaan Allah.

Kunci Pemahaman perumpamaan ini: Si Anak Bertobat
Anda akan melihat bahwa di dalam kedua perumpamaan yang sebelumnya (tentang domba dan uang dirham yang hilang), domba dan koin itu bersikap pasif. Mereka tidak mengambil peranan apapun. Si gembala dan perempuan itulah yang melakukan segalanya. Namun saya peringatkan Anda bahwa jika Anda hanya mengambil salah satu saja dari ketiga perumpamaan itu, misalnya tentang domba yang hilang saja, maka Anda akan sampai kepada doktrin yang sesat yang berkata bahwa Allahlah yang melakukan segalanya sedangkan manusia tidak berperan apa-apa di dalam keselamatan. Atau bahwa peranan manusia adalah pasif sepenuhnya. Seseorang tinggal duduk menunggu keselamatan dari Allah. Apa yang dilakukan oleh si domba? Domba itu hanya duduk diam dan tidak berbuat apa-apa. Ia hanya menanti sampai Allah (sang gembala) datang dan menyelamatkannya. Nah, jika Anda membangun doktrin keselamatan dengan dasar seperti itu, Anda akan masuk ke dalam salah satu bentuk ajaran Calvinisme - ajaran tentang kepasifan manusia dalam berhadapan dengan aktifitas Allah. Padahal, kedua perumpamaan itu baru lengkap jika perumpamaan yang ketiga ini dimasukkan.
Di dalam perumpamaan tentang anak yang hilang ini, Anda akan mendapati bahwa kenyataannya, sang ayah justru tidak berperan aktif; ia berdiam di rumah menantikan anaknya kembali. Si anaklah yang melakukan segalanya. Anak itu bertobat. Anak itu yang memutuskan apa yang akan ia katakan kepada ayahnya. Anak itu yang pergi kembali kepada ayahnya. Namun, jika Anda membangun doktrin hannya berdasarkan perumpamaan ini saja, Anda juga akan masuk dalam kesimpulan yang salah, bahwa manusia yang melakukan segalanya sedangkan Allah tidak berbuat apa-apa. Anda harus memakai ketiga perumpamaan ini secara serentak untuk dapat melihat gambaran yang selengkapnya.
Saya tegaskan sekali lagi bahwa kesalahan dari orang-orang Calvinis tepatnya pada masalah penekanan ini: mereka hanya berfokus pada kedua perumpamaan yang pertama dan mengabaikan yang ketiga, yaitu Perumpamaan tentang Anak yang Hilang. Itu sebabnya, para pendukung Calvin mengajarkan bahwa Allah melakukan segala-galanya dan manusia tidak perlu berbuat apapun. Anda cuma perlu duduk menanti sampai Allah datang menyelamatkan Anda. Malahan, iman Andapun dinyatakan sebagai karunia. Pada dasarnya Anda tidak memiliki iman sama sekali. Semuanya merupakan pemberian, jadi bahkan di dalam hal iman, Anda juga tinggal menerima saja, Anda pasif. Ini adalah pendapat yang terlalu ekstrim, dan jelas tidak sesuai dengan Alkitab. Dan saya harus menyatakan hal ini dan menyatakannya dengan tegas.
Yesus sama sekali tidak mengajarkan hal ini. Si anak teringat pada kasih ayahnya dan ia bertobat. Perhatikan bahwa di dalam keseluruhan perumpamaan ini, si anaklah yang mengambil peranan aktif sampai dengan kepulangannya ke rumah. Hal ini sangat penting untuk kita ingat-ingat. Jika kita sudah paham akan hal ini, kita juga akan dapat melihat bahwa pertobatan adalah saat kita terbangun melihat kenyataan dunia rohani. Sebagaimana yang sudah Anda lihat di dalam ayat 17, di situ dikatakan bahwa ia menyadari keadaannya. Ia terbangun.
Di dalam Efesus 5:14 kita baca, Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu. Ini pernyataan yang penting. Jika Anda belum mengenal Allah, maka keadaan Anda sama seperti anak bungsu yang boros ini yang masih lelap dalam tidurnya. Anda masih belum terbangun. Anda masih belum memahami realitas kerohanian. Anda masih tinggal di dalam mimpi. Sekaranglah saatnya bangun dan melihat realitas Allah. Ada beberapa orang yang susah dibangunkan sehingga dibutuhkan benturan keras untuk membangunkan mereka. Si bungsu ini masih terlelap. Ia masih asyik menikmati dunia khayalnya sampai akhirnya dia terbenam dalam kekacauan.
Dosa dari Pengingkaran terhadap Allah
Perumpamaan ini sangat mengena dengan kehidupan saya. Saya tidak bisa menceritakannya secara panjang lebar sekarang ini kesaksian hidup saya, akan tetapi si bungsu itu mengalami hal yang sangat mirip dengan pengalaman saya. Dulu saya menjalani hidup di dalam dunia yang tidak nyata. Saya menjalani hidup sebagai seorang yang agnostik (tidak peduli kepada Tuhan) atau ateis (tidak percaya adanya Tuhan). Saya terombang-ambing di antara keduanya. Secara filsafat, agnostikisme lebih layak diterima ketimbang ateisme; karena ateisme tidak memiliki dasar pemikiran yang masuk akal. Saya terombang-ambing di antara kedua aliran pemikiran itu. Saya menjalani kehidupan di dunia tidak nyata yang saya bangun di dalam diri saya ini sampai akhirnya terjerumus ke dalam masalah seperti yang dialami oleh si anak bungsu itu. Sampai pada suatu hari, ketika saya duduk di dalam penjara penguasa Komunis, saya tersadar dan berkata, "Apa yang saya lakukan ini?" Sangat serupa dengan anak yang hilang di dalam perumpamaan ini yang berkata, "Aku seharusnya bisa tetap tinggal dengan bapa menjalani hidup yang berkelimpahan. Sekarang malahan harus duduk bersama babi!" Seperti itulah keadaan saya pada waktu itu. Saya duduk di halaman penjara, di bawah todongan senapan mesin seorang penjaga Komunis, dan saya tersadar. Dibutuhkan pengalaman yang seburuk itu untuk membangkitkan kesadaran saya. Saya membatin, "Apa yang sudah saya lakukan ini?" Dan kemudian saya menatap ke atas dan bertanya, "Bagaimana dengan Allah yang selama ini tidak saya pedulikan?" Lalu untuk pertama kalinya, saya berkata pada diri sendiri, "Aku tahu apa yang harus kukatakan kepada Allah." Dan saya mulai menyusun doa di dalam hati saya dan memanjatkan doa tersebut. Saya bertobat, dan saya sangat kagum ketika mendapati bahwa Allah sangat berbelas kasih. Allah yang sudah saya perlakukan dengan kurang ajar, ternyata sangat berbelas kasihan kepada saya!
Anda mungkin tidak berpikir bahwa Anda sudah melakukan banyak dosa. Lihatlah anak yang hilang ini yang telah meninggalkan rumahnya. Apakah ia sudah menghina bapanya? Apakah ia sudah melecehkan bapanya? Apakah ia sudah mengutuki bapanya? Tidak. Apakah ia mencuri sesuatu dari bapanya? Tidak. Ia meminta bagiannya dan ia mendapatkan itu. Mungkin caranya sedikit memalukan, tidak elok, akan tetapi itu tidak salah di sisi hukum, tidak berdosa. Ia tidak melanggar hukum apapun. Lalu bagaimana cara kita memahami situasi ini? Apakah ia sudah berbuat kasar kepada ayahnya? Tidak. Jadi, ia tidak mencuri, tidak membunuh - tidak melakukan hal yang jahat. Lalu apa dosanya? Kesalahan apa yang dibuat oleh anak ini? Hanya satu: ia menyangkal ayahnya.
Apa kesalahan yang Anda lakukan sebagai seorang non-Kristen? Apakah Anda melakukan pembunuhan? Pencurian? Atau merampok bank? Tidak. Kesalahannya adalah bahwa Anda telah berpaling dari Allah. Pada dasarnya Anda telah bu xiao. Anda telah menolak untuk memuliakan Allah, Bapa segala yang ada, sumber dari hidup kita. Itulah kejahatan Anda. Itulah hal yang saya lakukan dulu. Saya bahkan melakukan lebih dari itu. Saya sudah menghina dan mengolok-olok orang-orang Kristen, walaupun saya tidak menghina Allah. Saya tidak mencuri, merampok, tidak ada tindak kriminal yang pernah saya lakukan, akan tetapi saya justru melakukan hal yang terburuk - membelakangi Allah. Saya berkata, "Aku tidak punya waktu untukMu. Aku akan menjalani hidup dengan caraku sendiri. Selamat tinggal."
Ketika saya ingin berbalik kepada-Nya, saya menyadari bahwa saya tidak berhak untuk berbicara kepada-Nya. Namun sungguh besar belas kasihan-Nya! Ia berlari menyambut saya! Dan tempat yang dipilih sungguh luar biasa, saya bertemu dengan Allah di dalam penjara penguasa Komunis. Betul-betul tempat yang luar biasa! Saya bersyukur kepada Allah atas kehadiran kaum Komunis dalam hal ini. Jika pihak Komunis tidak pernah datang, mungkin saya tidak akan pernah menjadi orang Kristen. Segala sesuatu terjadi dengan tujuan yang sudah pasti, bahkan peristiwa kemenangan kaum Komunis sekalipun. Jika China tidak dimenangkan oleh kaum Komunis, saya ragu apakah saya dapat menjadi Kristen. Dengan pengalaman segawat itulah saya dibangunkan pada kenyataan. Saya tersadar dari mimpi dan bertemu dengan Allah. Suatu perjumpaan dengan Allah yang sangat mengesankan yang terjadi di halaman penjara, yang belum pernah dapat saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu dengan Allah ketika sedang duduk di halaman penjara itu. Saya bercakap-cakap dengan-Nya. Dan saya mengalami Dia dalam suatu cara yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh mereka yang belum pernah mengalami Allah. Pengalaman ini tidak dapat diterangkan. Allah hadir melingkupi saya, dan seluruh tubuh saya dipenuhi oleh rasa sukacita, sukacita yang tidak dapat saya pahami. Pengalaman pertemuan ini tidak dapat saya pahami secara nalar dan tidak juga dapat saya jelaskan menurut bahasa nalar.

Jaminan kita Hanya ada di dalam Allah, Bapa kita yang Penuh Belas kasih
Kita akan masuk ke dalam poin yang terakhir walaupun masih ada banyak kekayaan makna di dalam perumpamaan ini yang dapat kita gali. Poin ini dapat diilustrasikan dengan memakai pengalaman saya di dalam kamp tahanan kaum Komunis itu. Sesudah Allah menempatkan saya di tempat yang sangat rendah seperti itulah baru saya siap untuk bertemu dengan-Nya. Bagaimana menurut Anda jika si bungsu ini, ketika ia sedang duduk di antara babi-babi, berkata pada dirinya sendiri, "Nah, saya ini masih seorang anak! Jika saya menuntut ke pengadilan, mungkinkah dia akan menyangkal bahwa ia adalah ayah saya dan saya adalah anaknya?" Anggaplah ia memutuskan, "Saya akan pulang dan berkata, "Sudahlah bapa, bagaimanapun juga saya ini kan anakmu. Engkau tahu siapa saya, bukankah begitu? Sekarang ini saya terlihat lusuh, tetapi nama keluarga saya masih Chang, bukankah begitu? Engkau adalah ayah saya dan engkau tidak mungkin dapat menyangkal hal itu. Ini akte kelahiran saya. Semua keterangan ada di sana."" Menurut Anda, apa yang akan terjadi dengan si bungsu ini?
Saya lihat ada begitu banyak orang Kristen yang berperilaku seperti ini. Mereka berpikir bahwa pada Hari itu, mereka akan datang menghadap kepada bapa dan berkata, "Lihat, ini surat baptis saya, saya dibaptis di sebuah gereja yang sangat bagus, Gereja Injil di Montreal (Kanada). Tempat yang cukup layak untuk beribadah. Lihatlah keterangan di dalam surat itu. Ini tanda tangan pendetanya. Sekalipun mungkin engkau tidak bisa membaca, tentunya engkau tahu bahwa itu adalah tanda tangan. Ini surat resmi. Jadi, sekarang saya datang. Saya mau mengklaim keselamatan saya! Saya memang tidak menjalani hidup selayaknya sebagai orang Kristen. Cukup banyak dosa yang saya perbuat. Cukup banyak tindakan ngawur yang saya lakukan. Bahkan mungkin kualitas kehidupan rohani saya sebagai orang Kristen masih di bawah kualitas kehidupan orang yang non-Kristen. Tapi saya punya surat baptis. Saya adalah seorang anak!"
Dan orang-orang yang malang itu mengira bahwa Allah akan berkata, "Oh, mari sini anakKu! Baiklah, karena kamu punya surat baptis, Aku terima kamu sebagai anak dan engkau boleh kembali ke rumah."
Seperti kebanyakan pengalaman orang-orang Kristen pada hari itu, Anda juga akan sangat terkejut! Jika Anda mendasarkan keselamatan Anda pada klaim anda sebagai anak, tamatlah riwayat Anda! Ini bukan untuk menakut-nakuti.
Kita berbicara tentang keberadaan sebagai anak di dalam perumpamaan ini. Si anak bungsu baru menjadi layak sebagai anak justru saat ia menyadari bahwa ia tidak layak untuk menjadi anak. Si bungsu ini menjadi anak seutuhnya baru pada saat ia menyadari bahwa ia sesungguhnya tidak mempunyai hak untuk menjadi anak. Ini adalah perbedaan yang mendasar antara si bungsu dan si sulung, anak namun belum menjadi anak. Ini adalah poin yang harus kita pegang dan pahami secara mendalam. Ketika si bungsu membatin, "Aku akan berkata kepada bapa, 'Saya tidak layak menjadi anakmu. Berilah saya tempat di antara para hambamu,'" saat itulah ia berada dalam keadaan yang layak menerima anugerah. Anugerah bukanlah anugerah jika Anda dapat menuntut pemenuhannya. Waspadalah terhadap setiap doktrin atau pengajaran yang mendorong Anda untuk berpikir bahwa pada Hari Penghakiman nanti Anda berhak untuk menuntut keselamatan bagi Anda, bahwa Anda berhak untuk memperolehnya atas dasar suatu tanggal dan bulan anda percaya. Setiap orang yang berpikir seperti itu akan segera mendapatkan kejutan besar. Hanya ada satu macam orang yang akan mendapatkan warisan, yaitu orang miskin. "Berbahagialah orang yang miskin." Mereka tidak memiliki hak; dan mereka tidak menuntut hak apapun. Mereka hanya datang dalam kerendahan hati dan bertobat.
Saya beritahu Anda bahwa saya akan menjadi orang yang sangat bodoh jika saya menghadap kepada Allah di Hari Penghakiman itu dan berkata, "Lihat, saya seorang pendeta. Saya sudah memberitakan Injil selama bertahun-tahun! Saya berkhotbah di dalam banyak seminar dan KKR. Lihat saja betapa banyak peserta yang hadir di sana, mereka semua tahu bahwa saya memberitakan Injil, bukankah begitu? Saya adalah seorang Kristen, dan bukan hanya itu, saya seorang pendeta! Jadi kalau ada orang yang berhak masuk ke dalam kerajaan Allah, sayalah orang itu! Perintahkanlah para malaikat untuk meniupkan terompet menyambut saya!" Saya beritahu Anda, jika saya datang kepada Allah dengan cara seperti ini, Ia sama sekali tidak akan ada waktu untuk saya.
Pada Hari itu, saat saya datang kepada Allah, saya akan berkata, "Tuhan, saya tidak punya apa-apa yang dapat saya persembahkan padaMu. Saya tidak mempunyai klaim apapun. Kiranya Kau berkenan menerima saya sebagai hambaMu. Saya sudah mengusahakan apa yang dapat saya lakukan. Pekerjaan saya sungguh tidak berarti sekalipun itu sudah saya lakukan dengan segenap kemampuan saya di dalam kasih karuniaMu. Karena keterbatasan saya, hasilnya memang tidak memadai. Saya sungguh memohon kiranya Engkau mau menempatkan saya di antara para hambaMu." Hanya sikap hati seperti itu yang dicari oleh Allah. Ia tidak punya waktu untuk berurusan dengan orang-orang yang angkuh dan meninggikan diri. Dan jika Anda pernah menerima doktrin atau ajaran yang menempatkan Anda di dalam semacam 'jaminan' seperti itu, lupakan saja! Tidak ada landasan alkitabiah yang meneguhkan ajaran itu. Seperti yang diceritakan oleh Yesus, anak ini diterima karena ia pulang kepada ayahnya, memohon untuk boleh diterima sebagai hamba atau budak. Ingatlah hal itu baik-baik. Camkanlah hal ini baik-baik.
Saya berdoa agar Anda dapat mempelajari sikap ini karena inilah kunci pemahaman seluruh perumpamaan ini. Jika Anda mencari sesuatu pelajaran dari peerumpamaan ini, maka poin inilah hal utama yang disampaikan oleh perumpamaan ini. Bukan sekadar kepulangan si anak bungsu yang diceritakan. Yang terpenting adalah dengan cara bagaimana si bungsu ini pulang. Yang terpenting adalah perubahan besar yang sudah terjadi di dalam sikap si anak bungsu itu.
Rasul Tuhan yang besar, Paulus, bermegah hanya dalam satu gelar saja, yaitu "hamba atau budak Yesus Kristus." Ia tidak menuntut kehormatan yang lebih tinggi ketimbang sekadar sebagai seorang budak Yesus. Pada zamannya, seorang pekerja dengan upah harian masih berkedudukan lebih tinggi dari pada seorang budak. Seorang pekerja harian mempunyai sedikit kemerdekaan, hal yang tidak dimiliki oleh seorang budak. Paulus hanya berkeinginan untuk dapat diterima sebagai salah satu budak Yesus Kristus. Paulus tidak bermegah atas keberadaannya sebagai anak. Ia menyatakan dengan sangat tegas, "Memang benar, kita menantikan pengangkatan sebagai anak. Namun di atas segalanya, saya bermegah hanya atas kesempatan istimewa menjadi seorang hamba atau budak Yesus Kristus."
Seorang hamba atau budak tidak menerima penghargaan atau balas jasa setelah ia melakukan segala sesuatu. Ia sekadar dipandang telah menjalankan tugasnya. Pernahkah Anda melihat ada budak yang datang kepada majikannya dan berkata, "Lihat, perhatikan prestasi saya"? Apapun yang sudah Anda kerjakan bagi Tuhan, tidak peduli sebesar apapun prestasi Anda, tidak lebih dari sekadar menunaikan apa yang memang sudah seharusnya Anda kerjakan.
Inilah arti dari 'keselamatan oleh anugerah'. Anugerah berarti "Tidak ada satu hal pun yang layak untuk saya banggakan. Saya tidak menuntut apa-apa, saya tidak membanggakan keberadaan sebagai anak yang telah diberikan kepada saya." Hal yang paling berbahaya adalah membanggakan anugerah seolah-olah anugerah itu merupakan hak Anda. Mari saya ingatkan bahwa, di dalam pengajaran yang alkitabiah, segala sesuatu yang dilandasi oleh hak bukanlah anugerah. Segala sesuatu yang menjadi hak Anda pasti berasal dari hasil usaha Anda sendiri. Segala sesuatu yang berasal dari anugerah tidak pernah merupakan hasil perjuangan. Jika kita menjadi anak, hal itu terjadi bukan karena kita memiliki hak atas hal itu. Dan sekalipun saya adalah anak, saya tidak dapat mengklaim keberadaan saya sebagai anak sebagai satu hak karena hal itu selalunya merupakan anugerah, dan anugerah tidak pernah dilandasi oleh hak.
Pada Hari itu, saya akan datang kepada Allah bukan sebagai orang penting, namun sebagai seorang berdosa yang telah bertobat yang diselamatkan oleh anugerah. Dan saya akan menghadap Allah Bapa dan berkata, "Inilah saya, dengan penuh sukacita menerima dan terus menerima anugerahMu." Dan saya memiliki keyakinan itu bukan karena saya adalah anak, melainkan karena belas kasih-Nya. Keyakinan itu tidak berdasarkan kedudukan saya, sebagai anak atau apapun itu, tetapi berdasarkan pada siapa Allah itu - Bapa yang penuh dengan belas kasihan.
Akan tetapi Dia tidak akan berbelas kasih kepada orang-orang yang tinggi hati, orang-orang yang membanggakan kedudukan mereka sebagai anak seolah-olah hal itu merupakan hak yang dapat mereka klaim. Orang-orang ini masih belum memahami apa arti keberadaan sebagai anak. Akan tetapi Gereja di zaman sekarang ini dipenuhi oleh orang-orang Kristen yang berkata, "Saya pasti selamat karena saya adalah anak Allah." Anda baru bisa hidup dan berlaku seperti seorang anak jika Anda menjalani hidup dan berperilaku seperti seorang yang sadar bahwa Anda tidak layak bahkan untuk berada di antara para pekerja harian apa lagi kelayakan untuk menjadi anak. Semoga Anda dapat memahami hal itu.
Kiranya Allah menganugerahkan kesempatan bagi kita untuk bisa kembali kepada-Nya dalam pertobatan, hari demi hari. Semoga saya bisa menjalankan hal ini setiap hari sehingga jika Hari itu tiba, saya dapat datang menghadap kepada-Nya di dalam jaminan kepastian iman, dalam belas kasih-Nya kepada orang-orang yang bertobat dan rendah hati. Inilah jaminan kepastian kita: Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang (Yoh.6:37). Inilah jaminan keselamatan saya, bukan didasarkan saya ini penting, saya adalah anak Allah. Jangan pernah mendasarkan jaminan keselamatan Anda kepada segala sesuatu yang lain selain Allah.